TANPA INSTAGRAM : 17 SEPTEMBER 2020

Kembali menjalani rutinitas menulis setiap malam. Aku berharap dengan menulis aku mampu menciptakan habits baru yang membuatku semakin terus berkembang. Hari ini disapa oleh langit yang begitu cerah dan disusul mendung dan hujan di sore harinya. Aku selalu menjalani rutinitasku seperti biasa. Mandi di jam biasa dan bekerja di jam yang sama. My planning hari ini adalah menuju rumah Nando dan mengunjungi kebun demplot yang ada di pinggiran kota. Memang aktivitasku minggu ini setelah tanggal 15 September cenderung lebih santai, namun tetap saja itu cukup menguras tenaga dan pikiran.

Kegiatan dimulai menuju rumah Nando. Tujuanku kerumahnya adalah untuk mengambil file video dan foto acara Farmers Field Day. Sebelum itu seperti biasa aku mampir untuk sarapan mengisi perut. Entah kenapa tiba-tiba aku enggan untuk memakan nasi hari ini. Maka dari itu berhentilah aku di warung seblak yang tak jauh dari rumah si Nando. Yummy, super hot rasanya. Memang aku memesan seblak dengan dosis yang cukup pedas kali ini. Dengan lahap aku memakanya sambil menyruput segelas es teh manis.

Selalu saja hari yang ku lalui penuh kegiatan insidental. Sesampainya di rumah Nando aku bertemu Nico, Lana, Sri dan Dadang. Ternyata merea sedang berkumpul karena akan mengantar surat untuk acara World Cleanup Day 2020. Acara bersih-bersih sampah gitu. Akhirnya akupun menunggu mereka menyelesaikan pekerjaanya. Sambil mendengarkan podcast aku menunggu mereka yang memang dari tadi sibu dengan urusan ngeprint dan urusan persuratan lainya. Kurang lebih hampir 30 menit menunggu. Sebelum mengantaran surat mereka memutuskan untu makan siang. Daripada aku menunggu lebih baik aku ikut dengan mereka. Berhubung aku sudah makan seblak 30 menit yang lalu aku hanya memesan minuman dingin, extra jos susu. Lumayan sih seger ditengah udara Papua yang begitu terik.

Ada perbincangan menarik saat kita di meja makan. Seperti konfrensi meja bundar, kalo gak ngegosip yang pasti ngegibah. Eits tapi yang kita lakukan bukan keduanya. Ternyata ada berita yang memang lagi memanas dikalangan masyarakat Papua. Di salah satu daerah ada seorang wakil bupati yang mengalami kecelakaan dan menewaskan salah satu polwan. Ketika aku ditunjukan sebuah video dan foto, betapa mengerikanya kecelakaan tersebut. Usut punya usut sang wakil bupati dan supirnya mengemudikan kendaraan dalam keadaan mabuk berat. Tentunya hal seperti ini adalah sesuatu contoh yang sangat buruk. Aku sendiri mengambil hikmah dari kejadian tersebut. Sepatutnya jika kita suatu saat di berikan amanah menjadi seorang pemimpin makan kita perlu menjadi tauladan yang baik bagi semua orang. Yang selanjutnya, aku bisa belajar bahwa kematian itu bisa datang kapan saja. Tidak sepatutnya kita menyombongkan diri. Buat apa kita sombong jika pada akhirnya kita akan sama saja dibenamkan dalam tanah.

Selesai makan dan mengahiri perbincangan yang penuh himah tersebut kamipun pergi untu melasanakan tujuan awal yaitu mengantarkan surat. Se ingatkku, tempat yang kami tuju adalah kantor bupati dan kemudian kantor kencamatan Biak Kota. Semua berjalan cukup lancar. Selepas itu aku pun dengan Nando kembali ke rumah, sedangan yang lain kembali melakukan aktivitasnya masing-masing.

Kembali ke tujuan awal hari ini yaitu meminta file video dan foto. Butuh kurang lebih 20 menit untuk memindahkan file tersebut ke hardisk. Oke, tujuan awal sudah selesai. Selanjutnya memulai untuk ke tujuan selanjutnya yaitu kebun yang ada dipinggiran kota. Sayangnya semesta belum menghendaki. Hujan turun amat deras. Akhirnya aku memutuskan untuk menetap hingga pukul 18.20 WIT. Tiba-tiba aku dan Nando lapar. Setelah menimbang nimbang segala jenis makanan apa yang akan kita makan, kita memutuskan untuk membeli bakso. Aku pun menghubungi Sri dan Dadang untuk mengajaknya makan bersama. Bakso yang kami makan kali ini rasanya sangat cocok di lidah. Mungkin ini bisa menjadi rekomendasi ketika kita ingin ngebakso kembali.

Seperti biasa, penyakit yang aku derita kambuh setelah makan, yaitu penyakit ngantuk. Akhirnya aku dan teman-teman memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Ternyata pekerjaanku belum usai. Ada salah satu teman yang mengabarkan kabar bahagia, ia mengatakan bahwa salah satu anggota DPR RI sedang mencari anak Papua untuk diberikan beasiswa sekolah. Akupun disuruh untuk mengumpulkan rekomendasi dan diberikan tenggat waktu hingga pukul 23.00 WIT. Jujur aku sangat bahagia, bagi ku ini cara Tuhan untuk mencrdaskan anak-anak Papua. MasyaAllah ini sesuatu yang menurutku sangat luar biasa. Lelahku hari ini rasanya terobati. Data yang diinginkanpun akhirnya aku peroleh dan dikirimkan sesuai tenggat waktu yang diminta.

Sebenarnya tidak semua hal yang aku lakukan hari ini aku tulis. Tanganku memang ingin menuliskanya, tapi rasanya otak ini terkadang sudah begitu lelah. Terakhir, aku ingin mengucapkan terimakasih dan maaf untuk Tuhan yang masih menjagaku, diriku sendiri yang sudah berusaha untuk kuat setiap hari, orangtua yang selalu mendoakan, istri tercinta yang selalu memberikan energi tambahan dan orang sekelilingku yang sudah membuatku berkembang setiap hari. Semangat Ganang!

TANPA INSTAGRAM : 15 SEPTEMBER 2020

Huft…lega rasanya hari ini. Kegiatan farmers field day yang menguras banyak pikiran dan tenaga akhirnya berjalan dengan lancar. Farmers field day adalah sebuah acara dimana para petani dan stakeholder yang bergerak dibidang pertanian berkumpul untuk berdiskusi dan bertukar pikiran. Semesta hari ini memang menurunkan hujan yang sangat lebat, namun bagiku itu adalah hujan berkat. Seperti biasa hari ini aku habiskan untuk menunaikan kewajiban yaitu bekerja. Tapi untuk hari ini pekerjaanku tidak seperti biasanya. Yaps, hari ini adalah salah satu kegiatan yang mungkin pamungkas dilakukan di Kabupaten Biak Numfor.

Pagi ini yang biasanya sebelum bekerja harus menuju ke warung makan, untuk kali ini sedikit agak berbeda. Aku langsung menuju ke tempat kegiatan di kampung Wirmaker pukul 07.30 WIT. Perjalanan aku tempuh kurang lebih 45 menit. Sesampainya ditempat tujuan, aku bertemu dan disambut oleh ketua kelompok tani disana yaitu Pak Silas. Lalu aku menanyakan sebuah pertanyaan ke beliau “Pak bagaimana untuk persiapan hari ini?”. Kemudian beliau membalasnya dengan jawaban yang membuat diri ini lega “Mantap mas, sudah beres”. Aku lihat orang-orang sibuk dengan pekerjaanya masing-masing. Ada yang sibuk di dapur untuk memasak, menyiapakan soundsytem dan mengerjakan keperluan lain yang berkaitan dengan acara.

Sebelum acara dimulai aku berinisiatif untuk mengkroscek kondisi kebun. Aku harus memastikan bahwa kondisi tanaman dan kebun sudah siap untuk dikunjungi oleh para tamu undangan. Aku melihat papan nama tanaman, sebagian terisi dan sebagian tidak. Segera aku memanggil salah satu anggota kelompok untuk menuliskanya. Aku mendikte nama apa saja yang perlu dituliskan dalam papan nama tersebut. “Cabai rawit dewata, kacang panjang kanton tavi, buncis perkasa..” aku menyebutnya sembari salah satu anggota kelompok tersebut menuliskanya pada papan nama. Saat flashback dan menulis tulisan ini aku tersadar bahwa seharusnya aku tidak boleh abai terhadap hal kecil seperti ini. Mungkin terlihat sepele, masalah papan nama tanaman. Namun sebenarnya ini merupakan sesuatu yang sangat penting. Nama sebuah komoditas adalah sebuah brand yang penting. Jika tidak ada nama lalu bagaimana orang mengenal produk tersebut? disini aku lalai.

Aku rasa semuanya memang sudah beres. Kemudian aku lanjutkan untuk berbincang dengan Pak Silas didepan rumahnya. Tiba-tiba suara teriakan dan bunyi “Gedebukkk!” terdengar dibagian dapur dekat toilet. Segera aku bergegas untuk menghampiri suara tersebut. Ternyata ada seorang Mace (baca: panggilan ibu masyarakat Papua) sudah tergeletak di lantai dan kemudian ada salah seorang bapak yang menggendongnya. Usut punya usut ternyata Mace tersebut pingsan akibat kelelahan begadang untuk menyiapkan keperluan bahan makanan acara hari ini. Sontak aku kaget dan terharu. Ternyata lelahku belum seberapa dibandingkan mereka. Aku sangat terharu, sebegitu berkorbanya mereka demi mensukseskan acara hari ini. Aku kembali berpikir dan mengingat. Ternyata tidurku malam itu begitu nyenyak sehingga lupa ada orang yang bekerja hingga larut malam. Disini aku merasa egois.

Waktu menunjukan pukul 10.00 WIT. Para tamu undangan sudah banyak berdatangan. Kurang lebih aku melihat 60 kursi yang tersedia sudah hampir dipenuhi oleh para tamu undangan. Rasanya semua tamu undangan yang masuk daftar listku sudah hadir. Ternyata aku salah, orang nomor satu di kabupaten Biak Numfor yaitu bupati belum menginjakan kakinya di tempat acara. Aku masih ingat ketika sore hari sebelumnya salah satu tim beliau mengatakan bahwa beliau sendirilah yang akan menghadiri kegiatan. Hingga pukul 12.30 WIT bapak bupati tidak menampakan batang hidungnya. Sedangkan waktu terus berjalan dan cuacapun yang awalnya panas berubah mendung dan kemudian hujan. Orang yang dinanti tiba. Namun ternyata beliau hanya mengutus utusanya untuk menghadiri acara. Katanya “Pak bupati jadwal padat”. Kegiatan sudah mundur 4 jam. Jujur disini skill sabarku diuji. Bukan hanya acara hari ini, di acara-acara sebelumnya pun selalu terjadi kejadian yang sama. Akupun hanya menarik nafas sembari mengumpulkan semangat kembali untuk memulai acara.

Acarapun akhirnya dimulai. Dengan awalan doa dan sambutan-sambutan, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan panen bersama. Dalam sambutan aku ditunjuk untuk mengambil giliran nomor dua. Entah apa yang aku rasakan. Yang jelas saat itu aku sungguh emosional. Bukan masalah salah satu tamu penting yang telat hadir, namun aku membayangkan jika suatu saat aku akan meninggalkan tanah Biak ini. Bagaimanpun 3 tahun sudah cukup membuatku untuk mencintai tanah ini. Alhamdulillah akhirnya aku dapat melewati tantangan tersebut.

Kurang lebih acara berlangsung pukul 13.30 sampai 16.30 WIT. Semua kegiatan berjalan dengan lancar. Tertuang dalam daftar hadir bahwa kegiatan tersebut dihadiri kurang lebih 150 orang. Jujur ini membuatku khawatir tapi membahagiakan. Kenapa aku khawatir? aku khawatir karena jumlah peserta yang banyak sangat beresiko di situasi seperti ini. Namun disisi lain aku bahagia, sebab aku melihat sinar kebahagiaan terpancar dari tawa peserta yang hadir. Saat ini aku hanya berdoa, siapapun yang hadir acara hari ini selalu dalam keadaan sehat dan selalu bahagia.

Masih banyak evaluasi hari ini. Selain evaluasi aktivitas pekerjaan yang begitu menyita banyak waktu, aku perlu mengevaluasi hal lain dalam diriku. Rasanya aku perlu meminta maaf pada tubuh ini yang begitu lelah untuk menjalani aktivitas hari ini. Aku juga harus meminta maaf tentunya pada istriku tercinta jika waktuku untuknya terpotong karena lelah hari ini. Namun dibalik semua kata maaf yang seharusnya banyak terucap hari ini, ada ucapan terimakasih untuk tubuhku dan orang sekitarku hari ini. Terimakasih sudah kuat dan berbagi kebahagiaan hari ini. Semangat Ganang!

TANPA INSTAGRAM : 14 SEPTEMBER 2020

Hallo semuanya, mulai hari ini aku bakalan hidup tanpa instagram. Enggak selamanya sih, cuma 18 hari saja. Aku ingin menantang diriku sendiri. Jujur aku enggak mau menjadi intagram addict yang apa-apa selalu membuka media sosial tersebut disetiap waktunya. Rasanya ketergantungan dengan media sosial khususnya instagram akan menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu akan meledak dan melukai diriku sendiri. Bangun tidur buka handphone, makan buka handphone, naik motor buka handphone, padahal tidak ada notifikasi apapun di handphone. Lalu berapa banyak waktu yang aku buang?

Setiap hari tangan ini rasanya gatal jika tidak upload story atau minimal lihat story orang lain. Padahal setelah aku pikir-pikir, hal tersebut adalah sesuatu yang unfaedah. Aku pernah bertanya dalam hati ”sebenarnya apa sih tujuan aku untuk upload story atau membuat story di medsos?”. Awalnya memang aku berpikir, bahwa apa yang aku buat bisa bermanfaat untuk orang lain. Tapi lama-kelamaan justru niat tersebut berubah tanpa aku sadari. Tidak mau munafik, hati kecilku mengatakan bahwa ada dorongan ingin menarik perhatian orang lain dari story yang kita buat di media sosial. Apalagi kalo bukan pujian atau image baik yang aku cari. Entah ini hanya perasaanku saja atau mungkin orang lain merasakan hal yang sama denganku.

Mulai hari ini aku berjanji pada diriku sendiri harus meminimalisasi penggunaan media sosial. Aku merasakan dampak yang baik ketika beberapa hari tidak bermain media sosial. Ya, 2 minggu yang lalu handphoneku rusak, jadi otomatis aku tidak bermain handphone atau media sosial. Selama kurang lebih 3 hari tidak berselancar di dunia maya aku merasa hidupku lebih produktif. Buktinya 1 buku telah selesai aku baca dalam kurun waktu 3 hari tersebut. Aku sendiri tidak mengatakan bahwa penggunaan media sosial itu sepenuhnya buruk. Tidak. Namun media sosial harus digunakan secara tepat dan tidak berlebihan. Media sosial mungkin awalnya diciptakan untuk memudahkan kita dalam berkomunikasi. Seiring berjalanya waktu hal tersebut justru menjadi boomerang bagi penggunanya. Coba kita hitung secara matematis, jika kita hitung berapa lama kita bemain media sosial setiap hari? Lebih lama mana interaksi sosial kita secara real life dengan orang sekitar kita? Jika kita menghabiskan lebih banyak di dunia maya maka ucapkan selamat pada diri kita sendiri. Selamat kita sudah menjadi budak media sosial tanpa kita sadari.

Sebagai gantinya, mulai hari ini aku bakalan ngejurnal diriku sendiri setiap hari lewat blog ini. Paling enggak aku harus konsisten menulis setiapa hari tentang story hidup yang aku lewati setiap hari selama aku tidak bermain instagram. Oke ini jurnal atau story hari ini kita mulai sekarang. Hari ini seperti biasa aku berangkat kerja pukul 09.20. Hari ini au memang lupa untuk pamit berangkat erja epada sang istri. Hari ini aku benar-benar gugup. Tujuan pertama adalah warung makan. Aku makan di warung solo yang kurang lebih jaraknya 500 m dari kos ku. Pagi ini aku memesan opor ayam dan es teh dengan total 20.000 rupiah. Setelah makan aku tidak langsung beranjak pergi karena hujan datang secara tiba-tiba. Aku isi waktu luangku sembari menunggu dengan bermain game mobile legends. Kurang lebih ketika waktu menunjukan pukul 10.25 aku bergegas untuk menuju tujuan utamaku yaitu kebun yang berlokasi di kampung Wirmaker, Distrik Yendidori. Jaraknya perkiraanku adalah 25 km.

Jalan menuju tempat tersebut membutuhkan waktu kurang lebih 40 menit. Sebenarnya jaraknya dekat namun kondisi jalan yang berlubang membuatku hanya bisa memau kendaraan dengan kecepatan 40 km/jam. Salah satu ritual utama dalam perjalanan adalah mendengarkan podcast. Podcast episode 37 dari balon terbang dengan judul belajar menerima, menemaniku sepanjang berkendara. Yang aku ingat dari podcast itu adalah pentingnya mensyukuri apa yang Tuhan takdirkan untuk hidup kita. Jika hari ini adalah kegagalan yang kita dapat, maka bukan menyerah solusi terbaiknya. Solusi terbaiknya menerima kegagalan dan berusaha mencapai keberhasilan dengan caranya kita masing-masing. Kurang lebih begitulah isi podcast yang aku dengarkan hari ini.

Sesampainya di tempat tujuan aku menemui Pak Silas, om Yunus dan om Yoas. Mereka adalah petani sang pemilik kebun. Aku memberikan sisa surat undangan dan papan nama tanaman sesuai dengan kesepakatan kita kemarin. 30 menit kita berbincang. Perbincangan kita yang aku ingat adalah hanya seputar kebun dan acara farmers field day yang akan kita lakukan esok hari. Setelah itu aku pamit untuk melihat kondisi kebun sekaligus melihat keadaanya. Alhamdulillah ternyata kondisi tanaman di kebun dalam keadaan yang baik-baik saja. Ketia aku berada di kebun, au melihat beberapa anggota kelompok tani pak Silas sedang mengerjakan dekorasi tempat untu makan acara esok hari. Tidak lupa aku menyapa dan melempar senyum pada mereka.

Kurang lebih 2 jam aku berada di tempat itu Kemudian aku izin pulang karena harus bertemu dengan Nando, slah seorang temanku. Kurang lebih aku tiba di kos pukul 14.30. Setibanya di kos aku beberes dan kemudian sholat dzuhur dan kemudian dilanjutan sholat ashar. Setelah beristirahat selanjutnya pukul 16.00 aku pergi untuk makan di salah satu tempat makan yaitu Oke Bento. Aku memesan ayam geprek paket A seharga 23.000 rupiah. Selanjutnya aku menuju rumah Nando. Niat awal aku ingin mengirimnya surat izin peminjaman drone. Tapi ternyata aku lupa untuk mengganti isi suratnya. Aku mengatakan padanya bahwa besok aku akan memberianya surat. Kemudian aku pulang.

Pukul 18.08 aku bergegas untuk  sholat. Tidak lupa aku memberitahu sang istri bahwa aku sudah berada di kos dan mau beberes sholat maghrib. Setelah sholat maghrib aku tak lupa berkomunikasi dengan istri. Komunikasinya singat, hanya berkabar, menanyakan aktifitas hari ini dan saling memberi doa dan semangat.  Kebetulan hari ini adalah hari Senin, hari dimana aku mempunyai jadwal olahraga yaitu badminton. Setelah sholat isya aku pamit ke istri untuk berangat menuju lapangan olahraga. Dari pukul 19.30 sampai 21.43 aku melakukan aktifitas bermain badminton. Hari ini aku bermain 3 kali dan semuanya kalah. Aku tidak enjoy bermain karena senar dari raketku agak sedikit kendor. Sepulangnya bermain badminton seperti biasa aku menunggu keringat yang ada dibadanku mengering. Aku mandi dan kemudian membeli sekaleng sprite untuk menemaniku menulis tulisan ini.

Yaps, hari ini terasa cukup melelahkan. Tapi tidak mengapa, aku masih bisa bersyukur diberikan kesempatan bernafas sampai detik ini. Evaluasi untuk hari ini aku rasa tidak begitu banyak. Tapi mungkin dilain kesempatan aku harus lebih prepare dan sabar dalam menghadapi situasi apapun. Kegiatan esok hari bisa jadi akan terasa lebih melelahkan daripada hari ini. Hal yang aku ingat untu besok adalah aku akan melaksanakan kegiatan farmers field day, berangkat pukul 07.30 dan membeli sabun cuci tangan untuk kegiatan tersebut. Semangat untuk besok Ganang!

HIDUP TIDAK PERLU BERAGAMA

https://www.ubaya.ac.id/2018/content/articles_detail/209/Tinjauan-Perilaku-Amoral-dari-Religiusitas.html

Akhirnya saya memutuskan untuk kembali menuangkan isi otak lewat ketikan sebuah jemari. Setelah diri ini merasa cukup untuk vakum, jiwa ini mulai memberanikan diri untuk menguntai beberapa kalimat. Entah ke trigger akibat mendengarkan podcast yang membahas agama atau mungkin ini adalah sebuah keresahan yang tertumpuk dan harus dituangkan.

Yaps, kali ini saya akan sedikit membahas tentang religiusitas atau orang awam bilang hidup dalam beragama. Pernah enggak sih, kalian berpikir kenapa dilahirkan dengan keadaan sudah beragama? Misal, ketika kita dilahirkan oleh orang tua muslim, maka sudah dipastikan bahwa Islam adalah agama yang akan kita anut, begitupun seterusnya. Lalu sejak kapan kita diputuskan untuk memeluk agama tertentu? Lihat saja, di Indonesia sendiri bahkan mengharuskan warganya untuk beragama. Disini saya sendiri mencoba berpikir melalui alam sadar sebagai orang awam.

Sebelum menulis tulisan ini tentunya saya ingin mendengar dari sudut pandang orang sekitar saya, lalu pertanyaan singkat muncul “Kenapa kamu harus beragama?”. Benar saja hampir sebagian besar jawabanya sama, kurang lebih alasanya karena mereka dilahirkan dari orang tua yang beragama dan memandang bahwa agama adalah sesuatu yang penting untuk mengatur kehidupanya. Oke, relatable dan konkret sih jawabanya. Bukan seperti hakim yang memutuskan itu salah atau benar, tapi saya sendiri bertugas layaknya pendengar yang baik.

Dalam pikiran saya sendiri, manusia memang diciptakan mempunyai fitur fiction. Artinya apa, manusia akan percaya dengan masa depan yang belum pernah dilihatnya dan cenderung berusaha untuk mewujudkanya. Begini, jika seekor kucing kita beritahu bahwa ketika ia tidak kencing sembarangan maka ia akan mendapatkan reward sebuah ikan segar, belum tentu si kucing akan menurut dan percaya. Bandingkan dengan manusia, ketika ada seorang tokoh penting menyebutkan bahwa ketika kamu beribadah, beramal dan berbuat baik maka balasanya adalah surga, bisa jadi manusia itu akan percaya, walaupun tentunya surga adalah sesuatu yang ghaib dan tidak bisa dilihat oleh panca indera manusia. Nah disinilah menurut saya bahwa kesadaran beragama tumbuh dibawah alam sadar setiap manusia.

Berangkat dari fitur fiction yang ada dalam diri manusia, kita menyadari bahwa manusia itu adalah makhluk yang sangat opurtunis. Manusia akan melakukan usaha ketika di iming-imingi sebuah imbalan. Ketika dia berhasil menggapai sesuatu tentu akan senang dan jika gagal tercapai tentu akan kecewa dan sedih. Tentunya dalam hal ini perasaanlah yang berperan penting. Semua setuju bahwa sifat dasar manusia adalah baik karena manusia mempunyai sesutau yang dinamakan hati nurani. Tapi jangan salah juga bahwa manusia punya sesuatu yang disebut hawa nafsu. Jika kita ingin dilabeli sebagai manusia yang baik maka keduanya harus seimbang. Perlu ada kontrol. Kontrol inilah yang menurut saya tidak semuanya bisa dibuat manusia. Kenapa saya mengatakan tidak semuanya bisa dibuat oleh manusia, karena manusia sendiri itu opurtunis. Perlu ada yang lebih besar dari sekedar kekuatan manusia. Siapa yang lebih besar dari manusia? Tentu jawabanya sudah pasti yaitu Tuhan.

Banyak orang mengaku bert-Tuhan tapi tidak beragama. Namun banyak juga yang beragama tapi tidak ber-Tuhan. Manusia di jaman modern berbondong-bondong membuktikan bahwa tanpa beragamapun mereka bisa menjadi manusia yang baik. Mereka menyebutnya agnostik. Bagi saya itu sebenarnya adalah beban untuk diri mereka sendiri. Kenapa saya mengatakanya beban, karena hawa nafsu mereka terkontrol dengan aturan diri mereka sendiri, sedangkan manusia yang beragama tidak punya beban untuk membuktikan apapun karena dirinya sadar bahwa sudah ada aturan yang ditetapkan untuk mengontrol dirinya. Artinya mereka bertuhan dengan pikiran mereka sendiri. Kontrol disini bukan berarti membuat kita terbelenggu, tapi lebih kepada aturan-aturan yang mampu membuat manusia dikategorikan baik dimata manusia dan Tuhan.

Teori dalam beragama dan kemunculan agama sebenarnya sangat banyak dikemukakan oleh banyak orang. Seperti teori para kaum matrealis. August Comte peletak dasar aliran positivisme menyebutkan, bahwa perkembangan pemikiran manusia dimulai dari kebodohan manusia tentang rahasia alam atau ekosistem jagat raya. Pada mulanya periode primitif karena manusia tidak mengetahui rahasia alam, maka mereka menyandarkan segala fenomena alam kepada Dzat yang ghaib.  Ia mengemukakan bahwa semakin berkembangnya teknologi dan pintarnya seseorang maka ia akan jauh dari agama. Nyatanya teori itu tidak sepenuhnya benar. Lihat saja banyak ilmuwan yang bergama bahkan menjadi tokoh dalam agamanya, seperti Ibnu Sina, Al Khawarizmi, Ibnu Khaldun dan masih banyak lainya. Jangan lupa juga sekarang banyak ilmuwan barat yang awalnya tidak beragama justru memilih memeluk agama tertentu karena sesuatu yang ditemukan dalam penelitianya.

Karl Marx seorang tokoh komunis tidak ketinggalan berpendapat lewat teorinya. Menurutnya agama adalah produk buatan pengusaha. Karl Marx mengatakan bahwa agama merupakan produk para penguasa yang diberlakukan atas rakyat yang tertindas, sebagai upaya agar mereka tidak berontak dan menerima keberadaan sosial ekonomi. Mereka (rakyat tertindas) diharapkan terhibur dengan doktrin-doktrin agama, seperti harus sabar, menerima takdir, jangan marah dan lainnya. Namun, ketika tatanan masyarakat berubah menjadi masyarakat sosial yang tidak mengenal perbedaan kelas sosial dan ekonomi, sehingga tidak ada lagi perbedaan antara penguasa dan rakyat yang tertindas dan tidak ada lagi perbedaan antara si kaya dan si miskin, maka agama dengan sendirinya akan hilang. Nyatanya teori itu gagal. Lihat saja, negara komunispun masih banyak masyarakatnya yang memeluk agama.

Semua manusia tentunya punya hak ketika memilih mau beragama atau tidak. Semua dimata manusia tentunya memiliki hak yang sama. Namun menurut persepsi saya, manusia tidak memiliki hak tak beragama dimata Tuhan. Bagaimana bisa manusia yang notabenya diciptakan Tuhan tapi seenaknya punya hak sendiri untuk tidak mengikuti firman Nya. Tapi ini bagi yang percaya. Tetap saja bagi yang tidak yah kalian tetap punya hak. Pada akhirnya saya menemukan kesimpulan bahwa beragama adalah sesuatu keharusan. Manusia bisa saja tidak beragama jika tidak memiliki ego dan bukan makhluk sosial. Artinya selama manusia masih ada keinginan untuk mendahulukan kepentinganya sendiri dan tidak bisa hidup tanpa zat selain dirinya sendiri maka dari situlah manusia wajib memutuskan untuk hidup beragama.

KISAH NOVEL BASWEDAN : ANTARA ADIL DAN IHSAN

cukup korban dan masyarakat memafkan dan hukum harus terus berjalan dengan setimpal, maka dari itu semuanya sudah memenuhi kriteria adil dan ihsan.

Semuanya barang tentu pasti tahu bagaimana kisah seorang penyidik senior KPK yang matanya rusak akibat disiram dengan H2SO4 atau orang menyebutnya air keras. Beliau bernama Novel Baswedan. Setelah kasusnya hampir tiga tahun tidak terpecahkan, akhirnya pihak berwenang mengumumkan sudah menemukan siapa pengendara motor yang menyiramnya setelah lepas sholat subuh itu. Entah ini angin segar atau awal dari masalah baru, yang jelas saat itu masyarakat sangat skeptis dengan dengan para penegak hukum. Tekanan masyarakat terhadap kasus ini begitu besar, ditambah dengan ultimatum sang presiden membuat pihak berewenang semakin terpojok. Lalu apakah ada kaitanya kedua hal tersebut dengan ditangkapnya kedua pelaku ? Biarlah waktu yang akan membuktikan semuanya. Nyatanya sekaliber korban pun tidak percaya bahwa orang yang ditangkap itu adalah pelaku sesungguhnya.

ibarat di dunia sepak bola, ketika lawan mematahkan kaki musuh justru sang wasit hanya memberikan peringatan saja dengan alasan sepak bola itu keras dan hal yang dilakukan tanpa unsur kesengajaan. Bagi wasit yang adil tentunya itu kartu merah.

Berangkat dari hal tersebut, kini kasusnya sudah memasuki babak baru. Jika memang pelaku adalah pelaku sebenarnya, harapanya mata yang rusak dan nyaris buta itu mampu dibayar dengan hukuman yang setimpal. Jika dalam Injil mengatakan mata dibalas dengan mata atau hukum qisas versi Islam, sebenarnya itu cukup terlihat adil. Mungkin akan terlihat berelebihan jika kita memandangnya dari sudut pandang bahwa balas dendam menjadi ukuran keadilan. Mari kita coba melihat kasus yang serupa di negara lain. Misal kasus Ameneh Behrami di Iran. Kasusnya sama, ia disiram dengan air keras sehingga matanya buta dan cacat. Pengadilan memutuskan untuk pelakunya wajib diberikan hukuman yang sama, yaitu melakukan penyiraman cairan yang serupa ke mata si pelaku. Terlihat kejam memang, tapi itu yang dinamakan adil. Bandingkan dengan putusan hakim terhadap kasus yang terjadi di Indonesia. Pelaku hanya akan diberikan hukuman satu tahun kurungan penjara. Iyah, hanya satu tahun. Dengan alibi “tidak sengaja” itu sudah cukup membuat hukum menjadi sangat tumpul. Semua berhak geram dan berargumen. Sebagai masyarakat awam pun pasti akan berpikiran hal yang sama, itu semua mencederai rasa keadillan. Ibarat di dunia sepak bola, ketika lawan mematahkan kaki musuh justru sang wasit hanya memberikan peringatan saja dengan alasan sepak bola itu keras dan hal yang dilakukan tanpa unsur kesengajaan. Bagi wasit yang adil tentunya itu kartu merah.

Menilisik lebih jauh definisi adil, dalam KBBI kata adil di sama artikan dengan sama berat dan tidak memihak. Dimanapun rasanya sepakat bahwa adil yaitu meletakkan sesuatu pada tempatnya atau dapat diartikan tidak berat sebelah, tidak memihak dengan kata lain berlaku adil adalah memperlakukan hak dan berpegang pada kebenaran. Adil dan kebenaran adalah sesuatu yang tidak mungkin bisa dipisahkan. Dalam semua tatanan kehidupan. Agama pun selalu menempatkan keadilan dalam sesuatu tempat yang tinggi. Allah sebagai zat yang paling tinggi berfirman dalam Al quran surah An-Nahl ayat 90 yang berbunyi, Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji. Perlu digaris bawahi bahwa ada dua kata sifat dalam ayat tersebut yaitu adil dan berbuat kebajikan atau biasa disebut ihsan. Adil yang dimaksud tentunya mencakup semua hal seperti adil terhadap Allah, adil kepada diri pribadi, dan adil kepada para manusia serta makhluk ciptaan Allah. Adapun ihsan adalah sesuatu perbuatan kebajikan atau kebaikan yang bersifat secara umum.

adil adalah memberikan hak kepada orang yang berhak menerimanya. Sedangkan ihsan memberikan hak kita kepada orang lain. 

Jika kita melihat dari kacamata harfiah, adil adalah memberikan hak kepada orang yang berhak menerimanya. Sedangkan ihsan memberikan hak kita kepada orang lain.  Contoh kasusnya seperti ini, jika ada seorang yang memaki kita kemudian kita berbalik memaki dengan kata yang sama maka itu disebut adil. Tapi jika ada seorang  yang memaki kita kemudian kita memaafkan dan justru memberikan dia nasihat dan hadiah maka itu disebut ihsan. Lalu mana yang lebih utama? Adil atau ihsan? Jawabanya adalah tergantung dari pesrpektif perbuatan yang dilakukan. Dari perspektif pribadi mungkin perilaku ihsan lebih utama. Tapi melihat dari perspektif sosial atau umum maka sikap adil yang harus diutamakan.  Lawan kata adil adalah zalim artinya jika kita tidak berbuat adil maka itu sama saja kita sedang melakukan perbuatan tercela. Berbeda dengan ihsan, ihsan tidak ada lawan katanya. Jikapun ada lawan katanya satu-satunya kata yang tepat mungkin adalah “tidak” berbuat kebajikan. Tapi tidak berbuat kebajikan bukan berarti berkonotasi negatif seperti kata dalam kata zalim. Artinya apa, sifat ihsan adalah perilaku kebajikan yang tidak diwajibkan.

Kembali ke kasus Novel Baswedan. Melihat fakta dilapangan, hukuman satuh tahun yang diputuskan oleh majelis hakim tidak mencerminkan sesuatu yang berkeadilan. Adil adalah suatu kewajiban. Jika orang miskin yang kelaparan dan kemudian mengambil makanan di kebun orang lain saja dihukum penjara lebih dari 5 tahun, maka dari sudut pandang mana kita melihat makna keadilan? Andaipun mau mengatakan itu adalah perilaku kebajikan atau ihsan, justru kasus orang miskin yang kelaparan itulah yang harus disikapi dengan sikap ihsan. Bukanya orang miskin dipelihara oleh negara? Jika masih ada orang yang kelaparan, justru yang harus dihukum adalah pemimpinya. Sikap ihsan tidak akan bertentangan dengan sifat adil. Dalam kasus Novel Baswedan sikap adil dan ihsan sangat bisa diterapkan. Cukup korban dan masyarakat memafkan dan hukum harus terus berjalan dengan setimpal, maka dari itu semuanya sudah memenuhi kriteria adil dan ihsan.

 

 

Hey Aku

Alhamdulillah masih diberikan kesempatan untuk membersamai ramadhan tahun ini. Ramadhan kali ini terasa sangat spesial. Aku tak ingin mengatakan ramadhan kali ini lebih buruk daripada ramadhan sebelumnya. Bagiku ketika Allah sudah mengatakan ramadhan adalah bulan yang penuh ampunan, itu sudah cukup menjadikanya tetap spesial. Bagaimanapun keadaanya.

Aku mengatakanya sangat spesial. Berbeda daripada ramadhan sebelumnya yang penuh hingar bingar keramaian, yang penuh lalu lalang kendaraan. Kali ini rasanya lebih khusyuk daripada biasanya. Memang tidak semua orang bahagia dengan keadaan ini, tapi melalui tulisan ini aku ingin membuatnya terlihat menjadi bahagia. Khususnya untuk diriku sendiri. Anggap saja Allah sedang mempersiapkan sesuatu yang megah buat kita.

Seperti perbaikan jalan raya atau pembuatan jalan tol. Awalnya pasti akan menimbulkan kemacetan yang luar biasa. Tak sedikit orang yang sangat kesal dibuatnya. Tak nyaman menjalaninya. Mungkin kita sedang dalam posisi demikian. Allah sedang membuat rencana yang sangat megah, indah dan wah.

Anggap saja kita gak bisa mudik karena jalanya sedang diperbaiki sama Allah. Anggap saja kita gak bisa traveling karena kendaraanya sedang diperbaiki sama Allah.
Anggap saja ekonomi seret karena duitnya sedang ditabung sama Allah.
Anggap saja gak bisa ke masjid karena masjidnya sedang direnovasi sama Allah.
Anggap saja anjuran sholat dirumah adalah perintah Allah untuk memastikan  kelayakanmu sebagai imam.
Pokoknya anggap saja sedang.

Sekarang sambat adalah sesuatu yang lumrah. Aku juga beranggapan demikian. Allah toh tidak mengharamkan untuk sambat, tapi tetap mengajurkan untuk jangan.
“Emang aku pohon mangga apa, yang cuma bisa diam dan gak bisa sambat”  iyah iyah, silahkan. Tapi jika aku, kamu dan kita semua tidak sambat, maka Allah akan membesarkan hati kita. Sedangkan jika sambat? Yaudah sambat aja gak papa, paling cuma dapat perasaan plong tak bersolusi.

Bohong boleh gak sih? Kalo boleh berbohong hari ini, aku mau bilang
“Aku tetap bahagia kok gak mudik. Ikut anjuran pemerintah”.  Izin yah untuk berbohong hehe.

Aku yakin, ego orang baik hari ini sedang meronta. Bagaimana tidak, rindu dan ikatan batin hanya bisa berujung pada pertemuan kulit dengan kulit, mata dengan mata, dan tentunya hati dengan hati. Bukan virtual.

Belum lega. Aku menulis ini karena aku ingin berdamai dengan diriku sendiri. Aku coba ikutin aku.
Lets go.. Letakan tangan kanan(ku) didada. Tarik nafas, elus pelan-pelan, keluarkan dan ucapkan “Jangan Khawatir, Allah Bersamamu”.

NOVEL RIMBA, ANAK SUKU MONDA : AWAL PERMUSUHAN

Auuu, rarama byebye yooo” teriakan khas dari suku Monda ketika memanggil suku yang dianggapnya sahabat. Arti dari teriakan itu adalah pujian dan sambutan selamat datang. Pagi itu ketika embun baru saja menetes, terdengar teriakan sahut menyahut antara suku Monda dan suku Sendiko. Rimba yang kala itu masih di nina bobokan oleh lantunan kidung suara embun dan ayam berkokok, tiba-tiba merasa terusik.

Tidak seperti biasanya teriakan itu begitu keras dan menggema. Rimba yang sontak terkaget kemudian bangun sembari menyapu tahi mata dan berucap “Bu, suara apa itu?” tanya anak kecil itu pada ibu yang semalam masih menidurkan Rimba dan adik. Tidak ada suara yang menyahut. Rimba tidak melihat apapun dan siapapun di gubug tempat Rimba tidur. Ketiadaan listrik dan matahari yang belum menyingsing, membuat suasana begitu gelap. Tiba-tiba terdengar “Door! Door! Door!” suara tembakan yang begitu keras. Logika Rimba tiba-tiba teringat cerita dari ayahnya. Dulu sebelum suku Monda merdeka, suku Monda terjajah oleh suku asing dari barat. Ayah mengatakan jika kakek Rimba adalah seorang pejuang yang gagah berani. Dengan hanya bermodalkan panah beracun kakek Rimba mampu membunuh musuh-musuhnya. Padahal kata Ayah, suku asing dari barat itu sudah dilengkapi senjata yang super canggih yaitu pistol. Sambil ayah menirukan “Door! Door! Door!” kakek tewas tertembak. Begitulah cerita ayah Rimba.

Rimba tersadar, apa mungkin suku asing itu datang kembali disini. Atau ini hanya sebatas bunga tidur? Tiba-tiba suara tangisan begitu keras terdengar ditelinga. Ternyata ada masyarakat kampung yang tertembak. Rumah terbakar, pohon penuh bekas tebangan dan masyarakat  banyak yang terluka. Bergegas Rimba lari untuk mendatangi kerumunan tersebut. Sesampainya dikerumunan, Rimba melihat ayahnya menangis sambil memeluk ibu dan adiknya. Bajunya penuh darah. Para kerabat dan masyarakat kampung memeluk jenazah keluarganya masing-masing. Rimba hanya bisa terdiam. “Kenapa kau sama sekali tidak terlihat sedih melihat keluargamu tewas ditangan suku Sendiko?” ucap salah seorang pemuda kepadaku.
“hah? suku Sendiko?” ucap Rimba polos.
“Apakah kau benar-benar anak asli suku Monda? Atau jangan-jangan kau tidak mencintai keluargamu?”
Kemudian disenggolnya kepala anak kecil itu, memaksanya untuk menjawab pertanyaan pemuda tersebut.

Rimba hanya terus terdiam dan kemudian terduduk. Ia hanya tertegun melihat ayah, ibu dan adiknya berpelukan erat. Dan memandangi gelang rotan yang biasa dikenakan sang ibu. Gelang tersebut terlepas tepat disamping jasad sang ibu. Rimba lalu memasang gelang tersebut ditangan kanannya. Perlambang ia terus mengingat wajah ibunya.
Ibu…
Teriakan keras dari hati kecil Rimba.

NOVEL RIMBA, ANAK SUKU MONDA: RIMBA

Rimba
Namaku Rimba. Ayahku memberikan nama itu karena ia sangat mencintai tanah leluhurnya yang asri penuh pepohonan. Ayahku juga pernah berandai jika suatu saat aku mampu menjadi pemimpin dan penjaga tanah ini.

Aku dilahirkan di tanah yang penuh damai. Dimana alam menyediakan seluruhnya untuk kehidupan kami. Nenek moyang kami memang terkenal sangat arif dalam melindungi alam. Sampai jika ada burung kecil jatuh dari sarangnya, moyang kami mengembalikanya dan memberikan sesuap makanan untuknya. Seantero bumi tahu itu. Suku kami memang bukan ras unggulan. Bahkan bisa dibilang kami terbelakang. Tapi ras kami terkenal dengan ras yang ramah dan bersahabat.

Aku tumbuh menjadi anak laki-laki yang kuat dan sedikit pendiam. Ayah yang mengajarkan. Baginya kekuatan bukan dari pandainya berbicara tapi pandainya menyelaraskan ucapan dengan perbuatan. Ayah pernah berpesan “Jadilah Rimba yang luar biasa walau ditempat yang biasa”. Aku memang belum tau apa makna yang ayah ucapkan. Yang jelas ayah menginginkanku untuk menjadi laki-laki yang tangguh.

Dahulu Rimba punya seorang ibu dan adik perempuan yang cantik. Tapi hari sedih saat itu merampas semuanya dari Rimba. Ya, Rimba menyebutnya hari sedih. 1 Desember 1961 menjadi hari kelabu baginya. Sukunya diserang oleh suku lain. Sendiko, nama sebuah suku yang awalnya menjadi sahabat bagi suku Monda. Suku asli Rimba.

Permusuhan
Entah bagaimana awal mulanya, yang Rimba tau ibu dan adiknya tewas dengan dua selongsong peluru menghujam jantung mereka. Ibu memeluk adik yang kala itu usianya baru menginjak satu tahun. Rimba melihat wajah perempuan yang ia cintai penuh peluh dan darah merembes hingga ke baju kain adiknya. Yang membuatnya semakin sedih Rimba dan ayahnya tidak bisa melihat pemakaman ibu dan adiknya. Orang yang disayang kini sudah bersemayam dipusara masal bersama para korban lainya. Menangis? Tidak! Rimba hanya tersenyum seperti mulut ibunya yang terakhir ia lihat. Diusia sekecil itu yang terbesit di pikiran Rimba hanyalah untuk apa menangis jika orang yang dicintainya terbujur kaku dalam keadaan tersenyum. Ibu dan adik pasti bahagia.

Semenjak itu suku Monda sangat membenci suku Sendiko. Sejujurnya Rimba tidak ikut membencinya tapi didikan lingkungan menjadikanya satu visi dan misi dengan sukunya. Walaupun tidak sepenuhnya. Berbeda dengan Ayah Rimba yang menjadi salah satu pimpinan terdepan melawan suku Sendiko.

MANUSIA DAN PORNOGRAFI

 

https://parenting.orami.co.id/
https://parenting.orami.co.id/

Apa yang terbayang dalam pikiran kalian ketika mendengar kata Bokep? Pastinya yang terngiang adalah adegan dewasa yang diperankan oleh lawan jenis. Kali ini aku ingin membahas tentang pornografi namun dalam perspektifku sebagai pria dewasa. Sebelum itu aku ingin meminta maaf jika nantinya akan mengandung kalimat vulgar atau kata yang kurang berkenan didalam tulisan ini. Kenapa aku ingin menulis tentang pornografi? Sejujurnya aku sendiri resah dengan maraknya seks bebas yang terus merajalela dikalangan para kaum remaja. Bukan berarti aku suci kalian penuh dosa yah, tapi ini murni sebuah keresahan yang memang ingin aku tuangkan dalam sebuah tulisan.

Dalam KBBI porno berarti cabul, sedangkan pornografi adalah penggambaran tingkah laku secara erotis entah dengan tulisan atau gambar yang membangkitkan nafsu birahi. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pornografi sudah sangat melekat diotak para pria dan wanita. Hari ini TV, DVD, youtube atau media sosial lainya menyediakan pornografi siap pakai bagi semua orang yang menginginkannya. Bahkan dimedia sosial, konten pornografi sangat mudah untuk ditemukan dan dikonsumsi. Tidak memandang umur, gender atau kasta sosial, pornografi menjadi obat penggembira bagi semua orang. Tidak sedikit para netizen mengatakan bahwa konten yang mengandung pornografi sebagi alat pemersatu. Coba kalian lihat, setiap ada konten porno yang lagi happening disuatu media sosial, komentar yang paling banyak bertebaran dikolom komentar adalah ”bagi link woy!”, “DM yah gaes linknya” atau “no link hoax”. Hayoh jujur, kalian pernah melakukanya bukan?

Sebelum berbicara mengenai dampak yang ditimbulkan akibat terlalu banyak menikmati pornografi, alangkah baiknya kita berbicara dulu tentang hukumnya dalam perpspektif agama. Aku sengaja mengambil hukum dari sudut pandang agama karena semua orang mengakui bahwa hukum agama adalah hukum tertinggi. Dalam agama Islam mayoritas ulama menganggap mengkonsumsi pornografi tanpa alasan yang syar’i adalah haram. Jangankan menonton pornografi, melihat lawan jenis yang bukan muhrimnya saja sudah berdosa, apalagi melihat seluruh aurat lawan jenis. Tapi bukan berarti Islam tidak mengajarkan tentang seks education yah. Jangan salah hampir seluruh pesantren di Indonesia seks education dan pernikahan adalah mata pelajaran favorit para santri. Dalam kitab Qurrotul Uyun karya Syaikh Muhammad Al-Tahami, disana terdapat beberapa pelajaran tentang bagaimana teori bercinta dan ilmu tentang pernikahan. Secara terminologi memang pendidikan seks  masuk dalam kaidah fiqih. Bukan hanya dalam Islam yah, menurut pandangan agama kristen, pornografi yang tidak pada tempatnya adalah sesuatu yang terlarang. Mengutip dari salah satu ayat dalam kitabnya, ibrani 13:4, dikatakan bahwa aktivitas seksual harus murni dan bahwa aktivitas seksual apapun di luar perkawinan adalah dosa. Nah itu artinya mengkonsumsi pornografi entah dalam bentuk apapun adalah sesuatu yang dapat merusak.

Berdasarkan survei dan penelitian yang aku baca bahwa pria lebih sering memikirkan seks dibandingkan wanita.  Kinsey Institute, sebuah institusi di Universitas Indiana, Amerika Serikat, misalnya, menyimpulkan bahwa 37 persen lelaki di dunia ini memikirkan seks setiap 30 menit. Bahkan ada sebuah penelitian juga jika pria memikirkan seks setiap 7 menit sekali. Aku begitu menyadari bahwa pria adalah makhluk visual sehingga dalam menangkap gambar responya akan lebih cepat dibandingkan wanita. Berdasarkan yang aku baca juga di liputan6.com menonton material pornografi memancing otak pria untuk melepaskan dopamine, senyawa yang memberikan efek serupa dengan narkotika. Tak heran banyak pria yang kecanduan untuk melihat pornografi entah dalam bentuk video ataupun gambar. Namun ada yang membuat diriku kaget. Berdasarkan hasil survei lain justru wanita lah yang lebih sering menonton film porno dibandingkan pria. Loh gak percayakan? Aku juga sebenarnya antara percaya dan gak sih.  Survei yang dilakukan oleh pornhurb (salah satu situs dewasa) mengatakan bahwa 80 persen pengunjung situsnya adalah wanita. Tentunya ini adalah salah satu yang mengagetkan dan membuat diriku berpikir kembali jika pria lah yang sangat sering menonton bokep. Tapi entah itu benar atau tidak yang jelas menonton film dewasa adalah sesuatu kebiasaan yang buruk.

Memang dibeberapa penelitian mengatakan bahwa mengonsumsi pornografi tidak memberikan dampak buruk bagi siapapun. Namun aku masih lebih sepakat bahwa seks yang tepat akan membuat jiwa seseorang sehat, sedangkan seks yang tidak tepat adalah sesuatu yang akan membuat hidupmu rusak. Jika dibandingkan dampak baiknya, pornografi justru lebih banyak membawa dampak buruk bagi kehidupan sosial masyarakat dan penikmatnya.

Dampak yang pertama adalah perzinahan. Mungkin bagi kalangan masyarakat khususnya para orangtua, perzinahan dalah sesuatu momok yang sangat menakutkan. Aku mungkin sekarang memang belum mempunyai seorang anak, tapi kekhawatiran tentang ini justru sudah muncul mulai dari sekarang. Bayangkan jika kita salah mendidik anak ataupun anak kita hidup dilingkungan yang tidak baik, apa jadinya? Dalam kasus perzinahan ini tidak sedikit yang berujung dengan free sex, pemerkosaan, pelacuran hingga perselingkuhan, sebagai efek dari kecanduan berhubungan intim yang tidak sehat.

Selanjutnya adalah penyimpangan seksual. Selain perzinahan, kecanduan pornografi bisa saja memicu penyimpangan seksual seperti LGBT. Sudah tidak heran tentunya jika kita mendengar berita ada pria atau wanita yang menikah sesama jenis. Atau juga ada manusia yang berhubungan seks dengan binatang. Banyak sekali penyimpangan tersebut diawali dengan rasa penasaran akibat sering menonton film porno. Ada salah satu cerita dari salah satu seorang temanku. Dia adalah seorang gay alias homoseksual. Menurut penuturanya, awalnya dia normal tapi akibat rasa penasaran dan menonton adegan dewasa sesama jenis via youtube secara terus menerus mengakibatkan ia mengalami penyimpangan seksual. Luar biasa bukan?

Selain dampak tersebut banyak dampak lain yang tidak kalah bahayanya bagi diri para pecandu pornografi. Menurut situs the parents Indonesia, seseorang yang mengalami kecanduan pornografi dapat menyebabkan kerusakan otak dibagian pre frontal cortex . Hal ini yang mampu membuat daya fokus manusia menurun.

Aku menulis ini bukan berniat untuk menambah masalah baru yah, tapi memberikan salah satu alternatif solusi supaya orang yang sekarang kecanduan pornografi bisa mengurangi atau bahkan lepas dari perbuatan buruk tersebut. Aamiin.

Salah satu yang bisa dilakukan untuk menghilangkan hasrat seksual yang sulit dikontrol adalah melakukan kegiatan yang produktif dan positif. Sebuah solusi yang klise memang tapi menurutku ini adalah salah satu cara yang paling efektif. Bagi teman-teman yang mungkin sering mutualan atau berteman dekat denganku pasti sering lihatkan story media sosialku yang diisi beragam aktivitas seperti menulis, edit foto, olahraga atau buat podcast. Itulah berbagai kegiatan yang aku lakukan untuk menghilangkan pikiran-pikiran negatif. Semakin banyak kalian melakukan kegiatan positif maka tentu saja habits buruk yang sering dilakukan perlahan akan hilang dengan sendirinya. Memang tidak mudah, tapi jika dicoba pasti bisa. Tentunya selain itu kita juga perlu banyak mengkaji ilmu agama. Memang tidak menjamin kita bakalan sembuh, tapi dengan kita lebih dekat dengan Tuhan dan paham dengan hukum agama bisa jadi itu akan membuat diri kita semakin positif dan menjauhi perilaku yang negatif seperti pornografi.

Bagaimanapun kecanduan pornografi adalah sesuatu yang abnormal. Jadi jangan pernah beranggapan sesuatu yang abnormal menjadi sesuatu yang normal dan terus menerus kita kerjakan.

 

Novel Hajar : Rahasia Hati Sang Ratu Zamzam

12312754_efe6b974-673b-4435-8609-fe96281bdd64_1440_2560

“Inilah yang telah dititahkan oleh Allah atas dirimu. Dipinggir sumur zamzam ini semua  orang akan mengenangmu. Juga akan mengenang seorang ibu bernama Hajar bersama dengan anaknya bernama Ismail”

Judul : HAJAR (Rahasia Hati Sang Ratu Zamzam)

Penulis : Sibel Eraslan

Penerjemah : Aminahyu Fitriani

Penyunting : Bunda Ina

Perancang Sampul : Zariyal

Penerbit : Kaysa Media

Tebal Buku : 438 halaman

Setelah lama tak menggoreskan sebuah pena di blog ini, akhirnya hati ini tergugah akibat efek kegabutan yang terus melanda. Ya apalagi kalau bukan akibat Physical distancing. Mungkin ini salah satu hikmahnya, Tuhan menyuruhku untuk sesekali menulis lagi.

Kali ini aku ingin menulis sesuatu yang berbeda dari tulisanku biasanya. Sebenarnya lama ingin menulis sebuah resensi buku-buku yang berhasil aku khatamkan. Namun apa daya sifat malas sebagai manusia selalu mengalahkannya. Entah ini bisa disebut resensi atau hanya review saja, yang jelas aku ingin menuliskan pengalaman batin yang nyaman ketika membaca buku ini. Buku yang beberapa kali aku selesaikan ini adalah sebuah buku favorit yang selalu mengaduk ngaduk perasaan pembacanya. Buku itu berjudul Hajar, Rahasia Hati Sang Ratu Zamzam, karya penulis kebangsaan Turki bernama Sibel Eraslan dan kemudian bukunya diterjemahkan oleh Aminahyu Fitriani.

Disampul paling belakang tertulis sebuah sinopsis yang cukup kuat untuk menceritakan semua isi buku ini. Berikut sebuah sinopsisnya.

Novel ini berkisah tentang istri dan ibunda seorang nabi. Lahir sebagai putri bangsawan, lalu dijadikan budak, hingga tampil sebagai istri sang nabi. Dengan alur kehidupan seperti itu, kisahnya tentu luar biasa. Begitu banyak penderitaan dan pengorbanan yang dilakukannya. Begitu banyak pula jeritan hati yang dirasakannya. Namun, semua itu pada akhirnya membuat Hajar menjadi wanita yang terus dikenang hingga akhir zaman.

Ini sebuah pertanyaan. Setelah membaca sinopsis tersebut apa bayangan kalian tentang buku ini? Ini sebuah pertanyaan yang bisa saja menguji kepekaan dirimu tentang sebuah buku. Hal pertama yang aku bayangan ketika mengambil pertama kali dari rak buku seorang teman adalah aku melihat seorang perempuan yang kuat dan bahkan lebih kuat dari seorang prajurit perang berbaju baja sekalipun. Terlihat berat memang isinya, namun sekali hanyut dalam kisahnya aku terperosok untuk ikut andil merasaan kesengsaraan yang diderita oleh istri nabi yang mulia, Hajar (ra).

Kisah Hajar ini ditulis dalam sudut pandang orang pertama, dimana aku (Hajar) menjadi sosok utama diselingi oleh sosok Sarah sebagai pendukung. Baiklah akan aku kisahkan sedikit tentangnya (Hajar).

Alkisah Hajar pada mulanya adalah seorang putri dari kepala suku bernama Col Merleri. Kepemimpinan yang adil menjadi tanah airnya begitu makmur. Seperti kisah pada umumnya, negeri yang makmur akan selalu mendatangkan musuh yang dipenuhi oleh sifat iri dan dengki. Tanah air sang greatest women itu lalu hancur luluh lantah akibat kebringasan musuh yang datang ke negerinya. Hajar kemudian menjadi tawanan dan diserahkan langsung ke sang Raja bernama Awemeleh sebagai bahan persembahanya. Awalnya Hajar akan dijadikanya seorang selir karena ia lahir dari garis keturunan bangsawan. Namun ia akhirnya hanya dijadikan budak pesuruh akibat ia bertemu dengan seorang yang berasal dari sukunya. Orang tersebut bernama Hazyerec.

Dibawah penderitaanya ia mengatakan,

“Sebab, deritaku lebih besar daripada diriku sendiri. Sampai sejauh ini betapa aku terlalu banyak berkata, Aku”

Hazyerec menyelamatkan Hajar dari pelampiasan nafsu sang Raja Awemeleh. Dengan dijadikanya budak maka ia tidak berkewajiban untuk menemani sang raja tidur di ranjang empuknya. Hazyerec jugalah yang mengajarinya ilmu pengetahuan, sehingga Hajar tumbuh menjadi sosok yang kuat dan pintar.

Dalam kisahnya setelah melalui penderitaan yang panjang ada secercah harapan yang hadir menjumpainya. Ia mendengar akan ada utusan Allah bernama Nabi Ibrahim bersama Sarah sang istri yang datang di kerajaan Awemeleh.  Kemudian ia menjadi pengawal sang istri nabi dan menjadi penyelamat atas izin Allah ketika Sarah ingin di dzalimi oleh raja Awemeleh. Diangkatlah ia menjadi budak oleh Sarah. Memang dia hanya budak Sarah sang istri nabi, namun ia diperlakukan layaknya seorang sahabat hingga ia terus mengawal Sarah dan nabi Ibrahim dalam menaklukan sebuah negeri.

Takdir Allah ternyata menuntunya untuk menjadi seorang istri nabi. Atas permintaan langsung dari Sarah yang belum memiliki keturunan, Hajar dan nabi Ibrahim akhirnya menikah.

“Malam itu aku membuka sajadahku diatas lautan air mata, Malam itu adalah hari pernikahan Hajar. Malam itu adalah malam yang paling membuatku berpikir tentangnya”, (Sarah). Itulah salah satu kata indah dari Sarah yang mengikhlaskan untuk berbagi suami.

Hingga kemudian ketika Hajar mengandung nabi Ismail,  Allah memerintahkanya untuk berpisah dengan nabi Ibrahim. Perpisahan itulah yang kemudian menjadi awal mula ditemukanya sumber air zamzam dan dibangunya rumah suci umat Islam yaitu Ka’bah.

Begitulah kisah yang tertuang indah di buku Hajar, Rahasia Hati Sang Ratu Zamzam. Dengan kekuatan kata-katanya Sibel Eraslan mampu membuat pembacanya berkelana kedalam era yang luar biasa. Kisah perjuangan Hajar mampu tersampaikan dengan sangat menyayat kepada siapapun yang membacanya. Narasi panjang yang kurang dinamis tidak membuat pesan yang ingin disampaikan penulis menjadi kabur, justru menambah rasa dalam sisi emosional. Bagiku sendiri ini bukan hanya buku novel biografi biasa, tapi banyak makna kehidupan yang bisa diambil menjadi sebuah pelajaran. Keteguhan seorang Hajar dan keikhlasan seorang Sarah bisa menjadi penguat manusia ketika menghadapi penderitaan dan pilihan yang sulit.