Laki-Laki Juga Boleh Nangis

Laki-laki juga boleh nangis loh

Berawal dari aktivitas memasak kala itu, aku terngiang sebuah celoteh pertanyaan dari seorang perempuan yang membantuku menyiapkan bumbu di sisi sebelah kiriku. Yaps, ia adalah istriku. Saat giliranku memasak, ia bertanya “Kok mas bisa masak sih?” saat itu aku hanya menjawab “Oh iyah dong”. Mungkin itu bukan pertanyaan merendahkan atau intimidasi. Bisa saja itu hanya obrolan selentingan khas suami istri yang kala itu sedang bergumul di tempat perapian. Namun pertanyaan itu begitu terngiang dan membuat aku sedikit berpikir. Saat itu, pertanyaan klise sekelebat hadir di benakku “Emang kalo laki-laki bisa masak itu aneh yah?”.

Telisik punya telisik ternyata mindset yang berkembang di masyarakat adalah demikian. Demikian bahwa seorang laki-laki tidak cocok untuk memasak karena itu adalah pekerjaan perempuan. Padahal apa iyah kalau pekerjaan itu punya gender? Ah menurutku tentu tidak. Inilah yang mungkin dinamakan stereotype gender. Laki-laki kudu kerja paka otot, sedangkan pekerjaan perempuan selalu berbau dengan kelembutan. Eitss tunggu dulu, yang mempunyai sisi emosonal itu bukan hanya perempuan, tapi semua manusia dan laki-laki adalah salah satu gender dari manusia itu sendiri.

Sejak masih orok, banyak laki-laki diajarkan untuk menjadi manusia yang tangguh dan kuat. Dengan begtiu aktifitas memasak dan bersih-bersih rumah dipandang sebagai pekerjaan yang tidak mencerminkan sosok rasa jantan. Tentunya anggapan seperti itu, jika kita sebagai laki-laki salah mengartikanya maka akan membentuk interpretasi bahwa laki-laki itu keras dan enggak boleh baperan (baca : bawa perasaan).  Dalam istilah psikologi, hal demikian dinamakan toxic masculinity.

Dalam Journal of Psychology mengatakan bahwa toxic masculinity adalah perilaku sempit terkait peran gender dan sifat laki-laki. Dalam toxic masculinity, definisi maskulinitas yang lekat sebagai sifat pria identik dengan kekerasan, agresif secara seksual, dan tidak boleh menunjukkan emosi. Dari definisi tersebut kita bisa sedikit memahami bahwa maskulinitas yang cenderung berlebihan akan membuat sebuah sikap agresiv yang menonjolkan kekerasan, merendahkan gender lain dan beranggapan bahwa memperlihatkan ekspresi kesedihan hanya milik gender tertentu yaitu perempuan.

Aku sebagai laki-laki tentunya punya pandangan sendiri terkait hal ini. Seperti definisinya, hal-hal seperti pemaparan diatas akan menjadi racun yang sangat berbahaya. Bayangkan saja, toxic masculinity ini akan menyematkan pada diri laki-laki bahwa ia tidak boleh menangis, tidak boleh mengerjakan pekerjaan dapur dan hanya boleh angkat galon, serta hanya boleh melakukan pekerjaan berat yang cenderung mengandalkan otot semata. Tidak ada unsur pembelaan disini, hanya saja aku ingin mengubah stereotype gender tersebut.

Pembatasan sifat laki-laki dan perempuan yang berlebihan cenderung akan mengekang kreatvitas setiap individu. Jika dari contoh diatas, misalnya laki-laki harus selalu terlihat tangguh dan tidak boleh memperlihatkan kesedihan atau sebuah tangisan. Kesedihan dan tangisan dianggap sebagai karakteristik seorang feminim. Hal seperti inilah yang sangat berbahaya bagi mental. Bagaimana mungkin, manusia yang diciptakan dengan indera yang lengkap dan berperasaan tidak boleh mengungkapkan sisi emosionalnya. Kalau kata lirik lagunya band the luckylucky sih “Aku bukanlah superman, aku juga bisa nangis, jika kekasih hatiku pergi meninggalkan aku”.

By the way,  toxic masculinity ini juga bisa berbahaya loh bagi kaum perempuan. Jika seorang laki-laki termakan oleh toxic masculinity, laki-laki tersebut akan cenderung merasa superior dan lebih tinggi derajatnya dari pada perempuan. Hal tersebut akan mendorong adanya kekerasan fisik dan tentunya akan rentan sekali mengarah ke pelecehan seksual.

Perilaku toxic masculinity tentunya bisa dicegah sejak dini.  Pencegahan ini harus kita ajaran kepada generasi penerus kita khususnya atau masyarakat yang berada pada lingkungan sekitar kita. Beberapa hal yang bisa kita lakukan adalah memberikan edukasi bahwa semua manusia itu punya hak yang sama, termasuk dalam mengungkapkan rasa emosionalnya. Ungkapan rasa emosional seperti menangis akan memberikan dampak positif bagi mental jika diungkapkan dalam waktu yang tepat. Sampaikan ke orang sekitar kita bahwa laki-laki sangat berhak untuk mencurahkan isi hatinya.

Ucapan yang baik juga mampu mencegah dampak racun maskulin tersebut. Hindari ucapan yang merendahkan perempuan seperti “Kok jalannya sperti perempuan”  atau “Udah deh jangan baperan, kayak perempuan aja”. Konsep setiap orang mempunyai batasan perlu ditanamkan sejak dini. Tidak ada manusia yang benar-benar sempurna dan memliki karakteristik yang sama. Menghargai apa yang kita punya dan orang lain punya, serta tidak membandingkanya adalah salah satu contoh yang bijak untuk menghentikan persebaran dari toxic masculinity.

“By far the worst thing we do to males — by making them feel they have to be hard — is that we leave them with very fragile egos.”

(Chimamanda Ngozi Adichie)

Bahagia Tanpa Persepsi Orang Lain

Bahagia tanpa persepsi orang lain

Hayoh udah berapa lama kalian main handphone? Loh katanya tadi cuma mau buka instagram bentar, kok jadi malah keterusan? Hayoh loh, hayoh loh.

Memang di era yang serba digital ini terkadang kita bisa benar-benar lupa waktu. Awalnya sih cuma mau buka whatsapp saja, siapa tau ada yang penting. Eh malah keterusan lihat story dan merembet buka facebook, intsagram dan ngeyotube hehe. Sadar enggak sadar, hal-hal seperti ini sering banget loh terjadi pada diri kita. Tak terkecuali dengan aku. Duh enggak kehitung deh hari ini berapa jam aku lihat handphone dan main medsos. Rasanya waktu di dunia maya lebih banyak deh daripada di real life.

Pernah dengar enggak istilah FOMO dan JOMO? JOMO yah bukan jomblo! FOMO atau singkatan dari Fear Of Missing Out adalah kondisi dimana kita takut jika tidak terkoneksi dengan orang lain dalam ber media sosial. Dengan kata lain kita akan merasa gelisah ketika kita ketinggalan trend atau berita diluar sanah yang bisa kita jangkau dengan mudah dalam media sosial.  FOMO ini akan menyebabkan alam bawah sadar kita menjadi ketergantungan dengan gawai. Kita akan secara tidak sadar memeriksa timeline, DM, inbox ataupun story dalam media sosial.  Pokoknya hawanya ingin main handphone saja. Kalo kata orang sih tanganya gatal kalo enggak megang handphone.

Lalu resikonya apa? Resikonya yah kita tidak fokus dengan diri kita sendiri. Kita bakalan mengikut kehidupan orang lain dan membandingkanya dengan kehidupan kita. Nah ini nih yang menjadi penyebab ada perasaan iri dan dengki terhadap orang lain. FOMO ini biasanya disebabkan oleh hasrat manusia yang ingin selalu terhubung dengan orang lain sehingga dirinya merasa utuh dan bahagia apabila terhubung dengan orang banyak. Dalam tulisanya di Indi Times, psikolog bernama Neerja Birla menyatakan bahwa FOMO memiliki dampak buruk terhadap kesehatan mental. FOMO ini bisa menyebabkan perubahan suasana hati atau mood secara ekstream, kesepian, rasa minder, gelisah, depresi dan persepsi negatif.  Eh tunggu dulu, kalian semua sadar enggak kalo sebenarnya fitur-fitur di media sosial memang di ciptakan supaya kita semua menjadi FOMO? Ya, aku rasa sih memang fitur story yang ada di medsos kita memang bertujuan untuk itu. Berasa ada yang kurang rasanya kalo enggak membuat atau melihat story orang lain. Walaupun yah terkadang ujung-ujungnya kesal juga lihat story teman kita yang unfaedah.

Lawan dari FOMO adalah JOMO. Joy Of Missing Out atau JOMO adalah kondisi dimana seseorang sudah cukup merasa bahagia dengan segala yang dimilkinya tanpa harus mengikuti orang lain. Biasanya manusia JOMO tidak akan terburu-buru melakukan hal baru dan keinginan baru. Era modern ini memang susah menjadi manusia yang benar-benar bahagia tanpa medsos. Tapi tunggu dulu, jangan salah persepsi yah. JOMO bukan berarti kita hidup tanpa gawai sama sekali loh. JOMO adalah tentang menemukan keseimbangan antara dunia maya dengan real life, memilih membatasi ketakutan, tidak mengikuti arus, serta merasa baik-baik saja dengan apa yang dihadapinya sekarang walau tanpa terkoneksi dengan orang lain sekalipun.

JOMO adalah salah satu bentuk self care yang perlu kita tumbuhkan. Perlu latihan dan tidak terjadi secara ujug-ujug.  Tujuanya jelas, agar kita semua bisa lebih menkmati hidup, menerima dan mensyukurinya  tanpa terobsesi untuk mengkuti trend yang ada di media sosial. Menahan diri dan belajar untuk tidak peduli dengan hal yang tidak mudah untuk dijangkau adalah kuncinya. Sulit? Jelas. Tapi bukan berarti tidak bisa. Beberapa hal bisa kita lakukan untuk membuat menjadi manusia JOMO yang bahagia.

Hal yang bisa kita lakukan adalah menghargai waktu dan menentukan skala prioritas. Jika kita beranggapan bahwa waktu adalah sebuah hal yang berharga, maka sudah seharusnya waktu yang kita punya harus dihabiskan dengan sesuatu yang bermanfaat. Tidak harus banyak, paling tidak energi dan waktu yang kita habiskan lebih terfokus dengan diri kita sendiri. Sadar tidak sadar orang yang mengalami FOMO akan mengalokasikan waktunya untuk mengikuti apa yang sedang trend, dan cenderung akan mengikutnya. Jelas itu semua memakan waktu yang tidak sedikit. Hal demikian yang harus kita hindari. Kita semua tidak perlu bahagia hanya demi persepsi orang lain.

Hidup itu memang perlu prioritas. Kalo semuanya dikerjakan yang ada kita hanya menjadi orang sibuk dengan hasil yang setengah-setengah. Ngomong doang memang gampang, tapi kalo ngomong disertai action nyata akan menghasilkan sesuatu yang tidak percuma. Menjadi orang yang produktif bukan berarti kita bisa melakukan semua hal. Fokus pada tujuan yang benar-benar bisa membuat hidup kita menjadi lebih bahagia. Sekali lagi, tidak harus banyak, sedikit tidak masalah jika memang itulah yang kita butuhkan. Bentuk habits baru yang baik dan teruslah bertumbuh.

Merenggut Kebahagiaan Diri (Self Sabotage)

Senyum mama Papua

Ingat manusia memang dasarnya pasti melakukan kesalahan, berpikir kesempurnaan untuk diri kita sendiri atau orang lain adalah sesuatu yang tidak realistis.

Hello, akhirnya pecah telur juga alias first time nulis di tahun 2021 ini. Enggak terasa yah 2020 begitu cepat berlalu. Aku paham banget kok, semua orang pasti merasakan bahwa tahun 2020 itu penuh kekecewaan. Tapi tetap yah bagaimanapun itu, kita semua harus bersyukur masih diberikan kesehatan dan kemampuan untuk melewati semuanya. Aku dan kalian yang membaca tulisan ini berarti termasuk orang terpilih loh, karena tidak semua orang juga yang mampu melewati ini semua. Semoga saja yah di tahun 2021, pandemi ini segera berlalu dan keadaan jauh lebih baik dari sebelumnya. Aamiin.

Ngomong-ngomong soal tahun baru 2021, kira-kira teman-teman semua punya resolusi apa nih di 2021? Kalo aku sendiri sih enggak muluk-muluk, cukup sehat dan terus meraih kebahagiaan yang tak terhingga (yaelah, itu mah muluk banget yak hehe). Bahagianya dunia akhirat yah, kalo cuma dunia mah apa atuh, receh. Kalo bicara kebahagiaan memang enggak ada habisnya yah. Apalagi semakin kita bertumbuh dewasa banyak banget yang mesti kita kejar. Kata orang-orang sih kebahagiaan itu kita sendiri yang ciptain (dengan kehendak Tuhan tentunya). Betul juga sih. Berarti kalo semisal bahagia itu kita yang ciptain, berarti bisa juga dong kebahagiaan itu dirusak oleh diri kita sendiri? Bisa jadi sih.

Nah kebetulan aku pernah membaca jurnal dan menonton video di youtube tentang self sabotage. Apaan tuh self sabotage? Jadi self sabotage itu adalah mekanisme alam bawah sadar yang menganggu rencana-rencana yang telah kamu rencanakan. Yah istilahnya kita mensabotase kebahagiaan yang sebenarnya bisa kita peroleh. Duh, apaan sih ribet banget kamu nang hehe. Jadi gini, kalian pernah enggak merasa insecure terhadap apa yang kalian punya? Atau membandingkan previlage atau skill yang kamu punya dengan orang lain, yang kadang membuat kalian merasa enggak percaya diri dengan diri sendiri? Sepertinya hampir sebagian besar orang pernah mengalami hal tersebut yah. Contoh konkretnya gini, aku dulu ingin kerja di perusahaan A karena memang perusahaan tersebut adalah tempat kerja impian semua orang. Tapi reaksi awal ku dulu adalah “ah palingan kalau aku daftar disitu paling gagal. Enggak jadi nyoba deh”. Nah itulah salah satu contoh dari self sabotage. Tanpa disadari aku membuang peluang untuk mendapatkan apa yang aku ingin. Udah ada opurtunity eh malah enggak diambil.

Sekarang pertanyaanya adalah, kenapa sih kita bisa mengalami self sabotage? Jadi berdasarkan riset kecil-kecilan dengan bantuan mbah google, ada beberapa hal yang menyebabkan self sabotage itu terjadi pada diri kita.

Yang pertama yaitu kita sering merendahkan diri sendiri. Sesimple kita beranggapan bahwa kita adalah diri yang gagal. Kita enggak suka fisik kita, kita enggak suka habits kita ataupun kita enggak suka dengan kehidupan sehari-hari diri kita. Tanpa disadari penghargaan yang rendah dan penghinaan terhadap diri kita sendiri akan membawa warna gelap pada diri kita. Pikiran negatif pasti outputnya negatif juga, lalu akan menimbulkan pikiran negatif yang baru lagi begitu seterusnya. Muter terooosss gitu lah pokoknya.

Yang kedua yaitu kita takut untuk menjadi lebih besar. Kalo banyak orang takut gagal, sebenarnya banyak pula orang yang takut sukses. Loh emang ada? Buanyak bro. Jadi gini, salah seorang temanku mengatakan bahwa dia takut untuk menjadi besar dengan alasan bahwa dia takut tidak mampu mengemban dan menjalani kesuksesanya kelak. Nah ternyata ini juga ada teorinya loh. Jadi teori ini dinamakan Jonah Complex yang dibuat oleh pakar psikologi A.H Maslow. Teori ini mengatakan bahwa ada ketakutan tentang kebesaran diri, penghindaraan takdir seseorang, atau menghindari perkembangan bakat seseorang.

Yang ketiga menghindari peluang baik untuk menyelamatkan diri sendiri. Di kasus ini, orang-orang yang self sabotage cenderung akan mengatakan “enggak deh” atau “kalo yang lain bisa kenapa harus aku” terhadap peluang yang ditawarkan. Padahal peluang tersebut mungkin saja akan membawa diri kita semakin berkembang. Orang yang mengalami self sabotage akan beranggapan bahwa ini adalah salah satu cara untuk melindungi diri agar dirinya tidak menemui kegagalan.

Yang keempat adalah menghindar dari masalah atau cari aman. Awalnya orang yang self sabotage menghindari masalah untuk menghindari ketidaknyamanan. Tapi ketika masalah tersebut menumpuk dan tidak terselesaikan pasti masalah tersebut bukan hilang justru bakal tambah besar. Misal, kita ada pekerjaan yang sulit tapi kemudiaan kita mencoba menghindar dengan leha-leha, nonton drakor di netflix dan sebagainya. Dalam jangka pendek mungkin tidak masalah, atau mungkin itu cara kita untuk membangun mood dan itu tidak menjadi masalah. Tetapi jika memang tidak diselesaikan dan kita hanya menghindar yah semuanya akan menjadi kacau dan itu akan menyusahkan diri kita sendiri.

Hayoh loh, kalian merasa melakukan self sabotage enggak? Kalaupun merasa, tenang saja pasti ada solusinya kok.

Salah satu cara untuk menghindari dari perilaku self sabotage adalah dengan positive self talk. Sudah seharusnya sih kita berbicara yang baik terhadap diri sendiri. Aku juga kadang menerapkan ini kok. Biasanya sebelum tidur aku berdiri depan kaca dan bilang “oke, Ganang kamu hebat. Besok harus lebih hebat lagi yah”.  Nah hal-hal demikianlah yang bisa kita lakuin supaya kita tetap on the track dalam kewarasan. Namun hal yang perlu kita semua ingat adalah positive self talk ini bukan untuk menipu diri kita sendiri. Positive self talk bukan berarti melawan perasaan sedih. Tapi, mengarakan diri untuk sadar dan menerima situasi yang ada. Ingat manusia memang dasarnya pasti melakukan kesalahan, berpikir kesempurnaan untuk diri kita sendiri atau orang lain adalah sesuatu yang tidak realistis. Positive self talk enggak kudu pakai kalimat seperti om Mario teguh kok, terkadang cukup dengan kata sederhana seperti “Enggak papa hari ini gagal, kan besok bisa coba lagi”. Harapanya sih dengan kita positive self talk kita tetep bisa hopeful disaat titik terendah sekalipun.

Nabi Isa dan Rasa Sakit

Jika Maryam adalah sebuah tubuh maka setiap manusia memiliki nabi Isa dalam dirinya. Ketika rasa sakit itu muncul maka nabi Isa pun lahir. Namun jika rasa sakit itu tidak timbul maka nabi Isa dalam diri kita akan samar dalam kepapaan.

Setiap muslim wajib mengimani 25 nabi dan rasul yang disebutkan dalam Al quran. Tentunya mencintai mereka juga adalah sebuah kewajiban. Tanpa mengucilkan 24 Nabi dan rasul yang ada, kisah nabi terkahir dari bangsa Israil sungguh menarik hati untuk terus diselami. Banyak pelajaran dan hikmah yang bisa diambil dalam setiap rentetan kejadian. Mukjizatnya selalu membuat orang terperangah dan hanya orang berimanlah yang sanggup mendistribusikan informasi itu ke otaknya dan kemudian mengatakan AKU PERCAYA.

Saat Jibril mengatakan pada Maryam “sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu, untuk menyampaikan anugerah kepadamu seorang anak laki-laki yang suci“ dan hal tersebut tertuang dalam  Al quran surah Maryam ayat 19. Hal tersebut adalah bukti manifestasi Tuhan untuk mengatakan bahwa umat manusia tak perlu khawatir, karena kekuatan Nya menjadikan hal yang mustahil menjadi sangat mudah terwujud. Jika di telaah, dalam sejarah hanya nabi Adam lah yang dilahirkan tanpa seorang ayah. Bahkan tanpa seorang ibu. Mungkin itu cukup menakjubkan namun perlu diketahui juga bahwa memang nabi Adam adalah manusia pertama yang menginjakan kaki di bumi yang hina ini. Nabi Isa berbeda. Hidup di zaman yang juga sangat berbeda. Dimana ketika ada seorang perempuan dipandang hina jika ia mengandung tanpa seorang suami.

Siapa yang akan percaya jika Maryam sebagai ibundanya saja mengatakan “bagaimana mungkin aku mempunyai anak laki-laki, padahal tidak pernah ada orang laki-laki yang menyentuhku dan aku bukan seorang pezina”.  Namun kenyataan itu hadir, Maryam mengandung dan mengasingkan diri untuk melahirkan seorang yang akan maksum (baca : tanpa dosa) hingga ia diangkat kembali ke langit.  Kemudian lahirlah manusia suci yang akan menunjukan jalan yang lurus bagi bangsa Israil. Dalam kaca mata penglihatan saya, bangsa Israil saat ini adalah bangsa yang kecil jika tidak ada para nabi yang dilahirkan untuk menuntun mereka. Kejayaan adalah semu. Urusan mereka pada akhirnya durhaka terhadap Tuhan itu urusan lain. Sejarah mencatat demikian.

Dalam hal asal muasal kelahiranya pun kita banyak mendapatkan sebuah hikmah. Rasa sakit adalah point intinya. Adalah rasa sakit yang akan menuntun seseorang  dalam melakukan sebuah aktivitas. Jalaludin Rumi dalam bukunya Fihi Ma Fihi mengatakan “orang yang tak memiliki rasa sakit, gairah dan kerinduan atas sesuatu, tidak akan berusaha mencapai sesuatu tersebut. Ia tidak akan mendapatkan sesuatu itu kecuali dengan merasakan sakit”. Tentunya ini adalah sesuatu yang sangat penting. Sesuatu bisa diartikan baik berupa kesuksesan dunia ataupun keselamatan di akhirat.

Jika tidak ada rasa sakit maka tidak akan ada nabi Isa. Saat itu, ketika banyak yang menghujat Maryam dengan hinaan yang sangat keji Tuhan hadir dalam manifestasi bayi kecil yang mengatakan “sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (melaksanakan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup” kata nabi Isa yang masih bayi sesuai Al Quran surah Maryam.  Hinaan dan makian adalah bentuk rasa sakit itu. Jika seorang Maryam tidak merasakan sakitnya melahirkan, ia tidak akan menuju pohon yang diberkahi itu. “kemudian rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma” (QS. Maryam ayat 23).

Manusia era modern sungguh amatlah sangat aneh. Tidak ingin merasakan rasa sakit namun ingin mencapai sesuatu. Ini mustahil, sebab nabi yang hidupnya selalu diberkahi sekalipun merasakan rasa sakit itu. Tentunya ini tidak masuk akal. Belajarlah.  Rasa sakit itu akan membentuk sebuah pencapaian yang mungkin akan menjadi mukjizat dalam setiap individu manusia. Jika Maryam adalah sebuah tubuh maka setiap manusia memiliki nabi Isa dalam dirinya. Ketika rasa sakit itu muncul maka nabi Isa pun lahir. Namun jika rasa sakit itu tidak timbul maka nabi Isa dalam diri kita akan samar dalam kepapaan.

Menjemput Jodoh : Fokus Pada Diri Sendiri Adalah Kunci

Stop berpikiran untuk merubah atau berharap diubah oleh orang lain. Kita semua tentunya punya peluang untuk menjadi ujian atau diuji oleh orang lain.

Lama sudah ku menanti, banyak cinta datang dan pergi. Tapi tak pernah aku senyaman ini, mungkin inilah cinta sejati. Uwoo.. Aduh malah nyanyi, maklum lah yah terbawa suasana hati. Ngomong-ngomong masalah hati, aku kali ini jadi ingin nulis tentang pemantapan diri. Loh maksudnya pemantapan diri? jadi gini loh, semenjak aku menikah, banyak circle ku yang tanya-tanya “eh nang gimana sih untuk meyakinkan kita bahwa dia jodoh kita?”, terus ada yang tanya lagi gini “kamu kan ta’aruf, untuk memantapkan diri dengan calon kita itu bagaimana?” Nah, pertanyaan itu sering banget muncul sekarang-sekarang ini. Aku juga yakin, buat kalian yang sekarang lagi gamang masalah jodoh gara-gara sering ditanya “kapan nikah” pasti hal-hal seperti ini terlintas dong yah dalam pikiran kalian.

Perkara masalah jodoh atau menikah memang bukan perkara sembarang. Perlu adanya kesiapan khusus untuk menemukan dan menjalaninya. Ini bukan masalah perkara mapan atau belum mapan yah, tapi ini masalah siap atau belum siap. Jangan pernah ke triger dengan teman kita yang baru menikah lalu dia bilang “aduh kenapa yah nggak nikah dari dulu, ternyata bukan cuma enak, tapi enak banget” buset dah, jangan dipercaya itu. Omongan itu hanya keluar sesaat ketika orang baru merasakan malam pertama opss..agak vulgar yah. Tapi memang demikian. Bagaimana bisa langsung menyimpulkan bahwa nikah itu enak banget, sedangkan dia aja baru merasakanya satu atau dua bulan, lalu apa kabar yang udah puluhan tahun menikah. Memang nikah itu ibadah, tapi emang mau ibadahmu nggak khusyuk dan nggak se nikmat seperti yang kita bayangkan? tentu nggak mau kan. Untuk khusyuk dan nikmat tentunya kita harus siap terlebih dahulu. Bagaimana biar siap? yah prepare dong ah, masa iyah cuman leyeh-leyeh.

Berdasarkan pengalamanku (heleh sok berpengalaman) bahwa menemukan pasangan dan terus menikah itu bukan perkara yang mudah, tapi yah nggak sulit-sulit amat sih. Disclaimer yah aku disini tidak bermaksud menggurui atau merasa paling jago (ampun bang jago), tapi lebih sharing aja tentang pengalaman pribadi. Jadi sebelum menikah, hal yang pertama aku lakuin adalah memilih cara apa yang aku harus lakukan dalam menjemput jodoh. Qodarullah aku memilih jalan untuk tidak pacaran sebelum menikah, alias ta’aruf. Kenapa aku memilih ta’aruf karena yah menurutku ini cara yang simple aja dibandingkan kita harus membuang-buang waktu pacaran dan ujung-ujungnya malah ditinggal nikah hehe. Yah walaupun tidak semua ta’aruf itu pasti berujung ke pernikahan yah. Tapi apapun jalan yang kita pilih usahakan niatkan semata karena Tuhan yah. Hal yang perlu digaris bawahi jangan pernah memilih jalan ta’aruf hanya untuk terlihat alim atau gaya-gayaan saja. Kalau aku sih dulu sebelum memilih untuk ta’aruf, aku benar-benar mempelajari konsep bagaimana ta’aruf dan itu aku pelajari selama dua tahun. Dan jujur itu benar-benar butuh effort banget loh. Jadi jangan coba-coba loh yah. Persiapkan diri betul-betul.

Kembali ke pertanyaan awal, “kenapa sih aku bisa mantap atau yakin memilih dengan istriku sekarang”, jujur ini tidak ada jawaban yang pasti dan awal-awal juga aku bakalan bingung menjawab ketika disodorkan pertanyaan yang sama. Setelah serbuan pertanyaan itu muncul berulang-ulang kali aku coba bertanya pada diri sendiri, kok bisa yah aku dulu mantap dan yakin dengan istriku saat ini. Padahal kalau dipikir, yang namanya ta’aruf kan interaksi kita itu sedikit sekali jika dibandingkan dengan orang yang pacaran sebelum menikan. Lah orang yang pacaran ber-abad-abad saja kadang masih belum yakin dengan pasanganya ketika ditanya soal pernikahan. Setelah melalui perenungan yang panjang, akhirnya aku menemukan satu jawaban yang menurutku ini jawaban terbaik saat ini. Jawabanya adalah jeng jeng jeng jeng.. “Fokus pada diri sendiri” itu jawabanya.

Aku baru sadar ternyata selama proses pencarian itu, aku memang betul-betul fokus dengan diriku sendiri. Arti fokus disini adalah aku tidak memikirkan jodohku seperti apa, tapi lebih berpikiran hal positif apa yang akan aku bawa untuk membersamai jodohku nanti. Pasti kita semua sudah tidak asing dong dengan kalimat “jodoh adalah cerminan diri”. Yaps betul sekali. Jika kita ingin memiliki jodoh atau pasangan yang baik yah kita harus baik dulu. Sebelum kita menemukan pasangan hidup kita, kita perlu refleksi dan membenahi diri kita sendiri. Stop berpikiran untuk merubah atau berharap diubah oleh orang lain. Kita semua tentunya punya peluang untuk menjadi ujian atau diuji oleh orang lain. Mulai perbaiki diri, akhlak, ilmu agama, mental dan tentukan visi-misi serta goal kita untuk masa depan. Hidup itu kan belajar sepanjang hayat. Media dan alat belajar sudah banyak, bisa dari guru, buku, internet dan orang lain yang lebih berpengalaman dari kita. Semua butuh proses, tyang bisa menilai kita siap atau belum siap adalah diri kita sendiri. Setiap orang punya waktu yang berbeda. Bisa lambat atau cepat untuk memutuskan suda siap dan pantas atau belum. Sekali lagi, fokuslah dengan diri sendiri. Bagaimana kita mau yakin dengan orang lain ketika kita sendiri saja tidak yakin dengan diri kita sendiri

Fokus dengan diri sendiri adalah kunci. Semua orang tentunya ingin mendapatkan yang terbaik dong yah. Tetapi kita juga harus ingat kita hanya bisa berusaha sedangkan Tuhan yang menentukan. Paling tidak ketika kita sudah berhasil fokus dengan diri sendiri untuk belajar dan mengevaluasi diri kita, kita akan jauh lebih siap ketika kita mendapatkan sesuatu yang diluar ekspetasi kita. Berkat proses itulah aku jauh lebih percaya diri ketika akan memutuskan untuk memilih si doi untuk menjalani ibadah terlama. Selamat berusaha.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)

ANTARA DIKOTOMI DAN EKSISTENSIALISME

Hakikatnya manusia adalah makhluk opurtunis yang selalu ingin terlihat menarik di mata manusia lainya. Tanpa disadari eksistensi kita sebagai individu akan membentuk berbagai macam karakter.  Tuhan menciptakan berbagai macam karakter manusia, dari karakter yang sangat keras, keras, lembut dan sangat lembut. Tidak ada yang benar-benar identik satu sama lain. Tetapi masing-masing individu memiliki ciri khas yang mungkin bisa di kelompokan. Misal, jika dilihat dari jenis kelaminya, laki-laki dan perempuan tentunya berbeda. Bentuk tubuh saja banyak sekali terlihat perbedaanya, apalagi karakter. Biasanya laki-laki dicirikan sebagai sosok meskulin yang kuat dalam hal tenaga dan lebih keras dibandingkan perempuan. Bebeda dengan perempuan yang selalu digambarkan dengan sosok feminim yang lemah lembut. Saya bukan termasuk orang yang seksis atau patriarkis. Saya lebih condong mengakui bahwa perempuan adalah makhluk ciptaan Tuhan yang sangat indah dan mulia. Untuk kedudukanya jelas setara dengan laki-laki.

Berbicara tentang perempuan, sejujurnya banyak hal yang perlu saya pelajari untuk lebih bisa memahami karakter atau tabiatnya. Jelas ini bukan sesuatu yang sederhana, perlu proses untuk dapat memahami semuanya. Perempuan itu unik dan rumit. Saya mengatakan demikian berdasarkan pengalaman empiris yang pernah saya dapatkan dan mendengar dari berbagai cerita-cerita orang sekitar saya. Terkait dengan sifat dan karakter perempuan, ada dua hal yang saya ingin bahas dalam tulisan kali ini. Yang pertama adalah tentang dikotomi dan kedua adalah eksistensialisme. Disclaimer saya tidak mengatakan semua perempuan itu sama, tapi saya hanya mengatakan bahwa sebagian besar perempuan punya hal yang sama.

Dikotomi adalah pembagian atas dua kelompok yang bertentangan menjadi dua bagian. Anggap saja misal tidak benar yah berarti salah. Sering sekali tanpa disadari kita terjebak dalam sebuah dikotomi. Apakah pernah kalian mengalami dimana situasi terpaksa harus memilih suatu hal, misal “Kamu pilih nonton bola atau pilih aku?” biasanya hal demikian terjadi pada laki-laki yang saat malam minggu tim sepak bola kesayanganya akan bertanding. Perempuan pasti berfikir jika laki-lakinya memilih menonton sepak bola berarti dia tidak sayang dengan sang perempuan. Seperti ketika seorang kawan perempuan menanyakan pertanyaan ke kawan laki-lakinya “Kamu pernah nonton film porno?” lalu laki-laki tersebut berfikir agak lama untuk menjawab pertanyaan tersebut. Namun belum sempat menjawabnya kawan perempuan tersebut menjawab pertanyaanya sendiri “Nah kan lama jawabnya, berarti sudah pernah”. Padahal belum tentu demikian. Saat itulah kita terjebak pada situasi pikiran dikotomi yang salah. Dalam hal contoh diatas adalah sebuah konsep dikotomi yang salah, jika laki-laki memilih nonton sepak bola bukan berarti dia tidak sayang dengan perempuanya, tapi bisa jadi karena saat itu urgensinya adalah menonton sepak bola. Hal yang sama jika laki-laki lama menjawab atau tidak menjawab sebuah pertanyaan tertentu, bukan berarti tuduhan negatif itu benar adanya. Selagi masih ada kemungkinan lain dan tidak mutlak maka konsep cara berpikir dikotomi tidak dibenarkan.

Secara metodolologi penelitian, konsep atau atau istilah yang termasuk dalam kategori dikotomi itu ditunjukkan oleh ada kategori kualitas yang dimiliki oleh objek yang kehadirannya hanya bersifat nominal saja. Ukurannnya, bisa dalam bentuk “ada atau tidak ada” “Hadir atau tidak hadir”. Salah satu konsep dikotomi yang benar adalah tentang konsep jenis kelamin. Jenis kelamin seseorang hanya terbentuk dari dua jenis, yaitu laki-laki dan perempuan. Hal tersebut jelas bisa dikatakan dikotomi,  karena pada saat seseorang terbukti berjenis kelamin laki-laki, pada saat yang sama dia pasti bukan bejenis kelamin perempuan. Atau pada saat kalian mengaku dan terbukti sebagai perempuan, tidak mungkin kalian akan juga mengakatan bahwa kalian laki-laki pada saat yang sama.

Selanjutnya adalah eksistensialisme. Eksistensialisme, yaitu keinginan untuk menampakkan dirinya. Semua manusia pasti punya keinginan untuk di akui orang lain.  Bukan hanya perempuan, laki-laki pun memiliki kecenderungan hal yang sama. Ada kisah menarik terkait dengan rasa ingin diakui atau eksistensialisme. Beberapa perempuan ingin pasangan laki-lakinya memajang fotonya di feed atau story di media sosialnya. Ini adalah salah satu contoh tentang bagaimana perempuan ingin lebih di anggap dan butuh pengakuan bahwa dia adalah sosok yang penting bagi laki-lakinya. Mungkin sebagian perempuan punya alasan yang logis kenapa  “mengupload foto dirinya” di media sosial laki-lakinya adalah sesuatu hal yang penting. Saya tidak mengatakan itu hal yang salah karena pada dasarnya semua orang memiliki rasa keinginan yang sama.  Hal yang salah adalah jika si perempuan melakukan dikotomi dalam hal ini, jika tidak diupload berarti “tidak sayang”. Saya mengakui bahwa laki-laki adalah makhluk yang cenderung memiliki sifat egois lebih tinggi dibandingkan perempuan. Bagi seorang laki-laki urusan upload meng-upload adalah sesuatu yang tidak dianggap penting. Sebagai makhluk egois, laki-laki tentunya tidak ingin foto atau gambar pasanganya di nikmatin oleh laki-laki lainya. Menurut saya itu adalah sebuah alasan yang cukup logis, walaupun terkadang hal-hal demikian sah-sah saja dilakukan, tentunya ini tergantung niat dan persetujuan kedua belah pihak.

Menurut seorang tokoh Psikologi bernama Rollo May, eksistensialisme juga menekankan sifat manusia yang ingin diakui, sebagai tujuan dan hakikat keberadaan dan merupakan tinjauan individual. Hal ini sebenarnya tidak menjadi masalah selagi manusia atau individu itu sendiri tidak mengalaminya secara berlebihan. Sifat eksistesialisme jika tidak mendapat feedback yang baik dari orang sekitarnya akan menimbulkan kecemasan dan ketakutan yang berlebihan. Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai makhluk sosial? Hal yang perlu kita lakukan adalah saling berinteraksi dengan baik. Hargai upaya apa yang sudah orang sekitar kita lakukan untuk kita. Terima dan berikan feedback yang baik.

Dari kedua hal diatas (baca : dikotomi dan eksistensialisme) saya dan kita semua perlu memahami bahwa manusia itu adalah abu-abu. Dalam artian tidak ada yang benar-benar baik dan tidak ada yang benar-benar jahat. Laki-laki dan perempuan punya kemungkinan yang sama dalam melakukan sebuah kesalahan. Tugas kita semua sekarang adalah tidak mempertentangkan sesuatu tapi mensinergikan hal yang baik agar dapat menghasilkan sesuatu yang lebih besar dan lebih hebat. Semoga bermanfaat.

KOMUNIS ITU TIDAK BERTUHAN

Kemarin (30/9) sebenernya pengen ngeshare sudut pandang saya sebagai orang awam terkait dengan komunis. Memang pasti ada pro kontra, saya juga bukan militan komunis. Tapi sayang saja kalau gak ditulis rasanya.

Dari kecil otak saya sudah di doktrin bahwa komunis itu tak ber-Tuhan. Kakek, nenek dan para orang tua juga mengatakan hal yang sama. Entah ini ter doktrin oleh penguasa kala itu atau tidak, yang jelas banyak orang yang berpendapat demikian.

Setelah mahasiswa dan sekarang tumbuh menjadi penikmat es teh tawar, saya banyak membaca buku dan artikel tentang apa itu komunis, marxisme, sosialis serta kapitalis. Akhirnya dari sudut pandang saya yang begitu sempit saya menyimpulkab bahwa komunis adalah ideologi/paham aliran politik dan bukan sebuah aliran agama. Tokoh seperti Tan Malaka, Muso dan DN Aidit adalah tokoh komunis yang menurut beberapa literatur sangat kuat agamanya. Tentu jelas mereka semua itu ber-Tuhan. Di negara timur tengah partai dengan genre kiri pun tetap eksis kok. Misal :

Di Turki ada Turkiye komunist Partisi (TKP)
Di Palestine ada Popular Front For Liberation of Palestinr (PFLP)
Di Suriah ada Syrian Communist Party (SCP)
Dan masih banyak lagi.

Sepengetahuan saya, dari dulu sampai sekarang untuk daftar jadi TNI atau yang dulu biasa disebut ABRI wajib ber-Tuhan dan beragama loh. Dan yang paling penting adalah bukan kader parpol. Jadi jelas orang yang menculik para jenderal itu ber-Tuhan bukan anggota parpol yah. Tapi namanya oknum yah pasti akan selalu ada.

Kalo saya boleh jujur, saya masih memaknai bahwa apa yang terjadi pada tanggal 30 September adalah “Perang bintang” di tubuh TNI kala itu. Saya memang belum nemu kejelasan yang pasti, yang jelas berdasarkan literatur yang saya baca saat itu jamanya adalah jaman revolusi. Bisa dikatakan saat tragedi saat itu Jenderal vs Dewan revolusi. Saat itu mungkin sebagian orang logikanya dibenturkan. Pokoknya yang menculik TNI dan yang diculik TNI, lalu setiap kejadian pokoknya dikaitkan dengan PKI atau parpol, serta rakyat menjadi tumbal. Akhirnya terbentuklah stereotip di masyarakat bahwa PKI itu kejam, biadab dan tidak ber-Tuhan. Endingnya apa? Seorang jenderal akhirnya berkuasa 32 tahun. Duh ngeri juga sebenarnya nulis beginian.

Kesimpulanya adalah, silahkan ambil kesimpulan sendiri. Pada intinya jika ingin menonton film G30SPKI yah tonton saja. Tontonlah sebagai karya seni dan bagian dari perjalanan sejarah namun tidak mutlak semua adeganya benar. Cukup jadi pembelajaran buat kita semua, bahwa ternyata kekuasaan itu bisa menyebabkan pertumpahan darah yang akan selalu diingat hinggal nama Indonesia ini tidak akan ada lagi. Tanpa mengecilkan hati para korban, saya murni hanya ingin menulis dari sudut pandang saya. Respect untuk kita semua.

TANPA INSTAGRAM : 17 SEPTEMBER 2020

Kembali menjalani rutinitas menulis setiap malam. Aku berharap dengan menulis aku mampu menciptakan habits baru yang membuatku semakin terus berkembang. Hari ini disapa oleh langit yang begitu cerah dan disusul mendung dan hujan di sore harinya. Aku selalu menjalani rutinitasku seperti biasa. Mandi di jam biasa dan bekerja di jam yang sama. My planning hari ini adalah menuju rumah Nando dan mengunjungi kebun demplot yang ada di pinggiran kota. Memang aktivitasku minggu ini setelah tanggal 15 September cenderung lebih santai, namun tetap saja itu cukup menguras tenaga dan pikiran.

Kegiatan dimulai menuju rumah Nando. Tujuanku kerumahnya adalah untuk mengambil file video dan foto acara Farmers Field Day. Sebelum itu seperti biasa aku mampir untuk sarapan mengisi perut. Entah kenapa tiba-tiba aku enggan untuk memakan nasi hari ini. Maka dari itu berhentilah aku di warung seblak yang tak jauh dari rumah si Nando. Yummy, super hot rasanya. Memang aku memesan seblak dengan dosis yang cukup pedas kali ini. Dengan lahap aku memakanya sambil menyruput segelas es teh manis.

Selalu saja hari yang ku lalui penuh kegiatan insidental. Sesampainya di rumah Nando aku bertemu Nico, Lana, Sri dan Dadang. Ternyata merea sedang berkumpul karena akan mengantar surat untuk acara World Cleanup Day 2020. Acara bersih-bersih sampah gitu. Akhirnya akupun menunggu mereka menyelesaikan pekerjaanya. Sambil mendengarkan podcast aku menunggu mereka yang memang dari tadi sibu dengan urusan ngeprint dan urusan persuratan lainya. Kurang lebih hampir 30 menit menunggu. Sebelum mengantaran surat mereka memutuskan untu makan siang. Daripada aku menunggu lebih baik aku ikut dengan mereka. Berhubung aku sudah makan seblak 30 menit yang lalu aku hanya memesan minuman dingin, extra jos susu. Lumayan sih seger ditengah udara Papua yang begitu terik.

Ada perbincangan menarik saat kita di meja makan. Seperti konfrensi meja bundar, kalo gak ngegosip yang pasti ngegibah. Eits tapi yang kita lakukan bukan keduanya. Ternyata ada berita yang memang lagi memanas dikalangan masyarakat Papua. Di salah satu daerah ada seorang wakil bupati yang mengalami kecelakaan dan menewaskan salah satu polwan. Ketika aku ditunjukan sebuah video dan foto, betapa mengerikanya kecelakaan tersebut. Usut punya usut sang wakil bupati dan supirnya mengemudikan kendaraan dalam keadaan mabuk berat. Tentunya hal seperti ini adalah sesuatu contoh yang sangat buruk. Aku sendiri mengambil hikmah dari kejadian tersebut. Sepatutnya jika kita suatu saat di berikan amanah menjadi seorang pemimpin makan kita perlu menjadi tauladan yang baik bagi semua orang. Yang selanjutnya, aku bisa belajar bahwa kematian itu bisa datang kapan saja. Tidak sepatutnya kita menyombongkan diri. Buat apa kita sombong jika pada akhirnya kita akan sama saja dibenamkan dalam tanah.

Selesai makan dan mengahiri perbincangan yang penuh himah tersebut kamipun pergi untu melasanakan tujuan awal yaitu mengantarkan surat. Se ingatkku, tempat yang kami tuju adalah kantor bupati dan kemudian kantor kencamatan Biak Kota. Semua berjalan cukup lancar. Selepas itu aku pun dengan Nando kembali ke rumah, sedangan yang lain kembali melakukan aktivitasnya masing-masing.

Kembali ke tujuan awal hari ini yaitu meminta file video dan foto. Butuh kurang lebih 20 menit untuk memindahkan file tersebut ke hardisk. Oke, tujuan awal sudah selesai. Selanjutnya memulai untuk ke tujuan selanjutnya yaitu kebun yang ada dipinggiran kota. Sayangnya semesta belum menghendaki. Hujan turun amat deras. Akhirnya aku memutuskan untuk menetap hingga pukul 18.20 WIT. Tiba-tiba aku dan Nando lapar. Setelah menimbang nimbang segala jenis makanan apa yang akan kita makan, kita memutuskan untuk membeli bakso. Aku pun menghubungi Sri dan Dadang untuk mengajaknya makan bersama. Bakso yang kami makan kali ini rasanya sangat cocok di lidah. Mungkin ini bisa menjadi rekomendasi ketika kita ingin ngebakso kembali.

Seperti biasa, penyakit yang aku derita kambuh setelah makan, yaitu penyakit ngantuk. Akhirnya aku dan teman-teman memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Ternyata pekerjaanku belum usai. Ada salah satu teman yang mengabarkan kabar bahagia, ia mengatakan bahwa salah satu anggota DPR RI sedang mencari anak Papua untuk diberikan beasiswa sekolah. Akupun disuruh untuk mengumpulkan rekomendasi dan diberikan tenggat waktu hingga pukul 23.00 WIT. Jujur aku sangat bahagia, bagi ku ini cara Tuhan untuk mencrdaskan anak-anak Papua. MasyaAllah ini sesuatu yang menurutku sangat luar biasa. Lelahku hari ini rasanya terobati. Data yang diinginkanpun akhirnya aku peroleh dan dikirimkan sesuai tenggat waktu yang diminta.

Sebenarnya tidak semua hal yang aku lakukan hari ini aku tulis. Tanganku memang ingin menuliskanya, tapi rasanya otak ini terkadang sudah begitu lelah. Terakhir, aku ingin mengucapkan terimakasih dan maaf untuk Tuhan yang masih menjagaku, diriku sendiri yang sudah berusaha untuk kuat setiap hari, orangtua yang selalu mendoakan, istri tercinta yang selalu memberikan energi tambahan dan orang sekelilingku yang sudah membuatku berkembang setiap hari. Semangat Ganang!

TANPA INSTAGRAM : 15 SEPTEMBER 2020

Huft…lega rasanya hari ini. Kegiatan farmers field day yang menguras banyak pikiran dan tenaga akhirnya berjalan dengan lancar. Farmers field day adalah sebuah acara dimana para petani dan stakeholder yang bergerak dibidang pertanian berkumpul untuk berdiskusi dan bertukar pikiran. Semesta hari ini memang menurunkan hujan yang sangat lebat, namun bagiku itu adalah hujan berkat. Seperti biasa hari ini aku habiskan untuk menunaikan kewajiban yaitu bekerja. Tapi untuk hari ini pekerjaanku tidak seperti biasanya. Yaps, hari ini adalah salah satu kegiatan yang mungkin pamungkas dilakukan di Kabupaten Biak Numfor.

Pagi ini yang biasanya sebelum bekerja harus menuju ke warung makan, untuk kali ini sedikit agak berbeda. Aku langsung menuju ke tempat kegiatan di kampung Wirmaker pukul 07.30 WIT. Perjalanan aku tempuh kurang lebih 45 menit. Sesampainya ditempat tujuan, aku bertemu dan disambut oleh ketua kelompok tani disana yaitu Pak Silas. Lalu aku menanyakan sebuah pertanyaan ke beliau “Pak bagaimana untuk persiapan hari ini?”. Kemudian beliau membalasnya dengan jawaban yang membuat diri ini lega “Mantap mas, sudah beres”. Aku lihat orang-orang sibuk dengan pekerjaanya masing-masing. Ada yang sibuk di dapur untuk memasak, menyiapakan soundsytem dan mengerjakan keperluan lain yang berkaitan dengan acara.

Sebelum acara dimulai aku berinisiatif untuk mengkroscek kondisi kebun. Aku harus memastikan bahwa kondisi tanaman dan kebun sudah siap untuk dikunjungi oleh para tamu undangan. Aku melihat papan nama tanaman, sebagian terisi dan sebagian tidak. Segera aku memanggil salah satu anggota kelompok untuk menuliskanya. Aku mendikte nama apa saja yang perlu dituliskan dalam papan nama tersebut. “Cabai rawit dewata, kacang panjang kanton tavi, buncis perkasa..” aku menyebutnya sembari salah satu anggota kelompok tersebut menuliskanya pada papan nama. Saat flashback dan menulis tulisan ini aku tersadar bahwa seharusnya aku tidak boleh abai terhadap hal kecil seperti ini. Mungkin terlihat sepele, masalah papan nama tanaman. Namun sebenarnya ini merupakan sesuatu yang sangat penting. Nama sebuah komoditas adalah sebuah brand yang penting. Jika tidak ada nama lalu bagaimana orang mengenal produk tersebut? disini aku lalai.

Aku rasa semuanya memang sudah beres. Kemudian aku lanjutkan untuk berbincang dengan Pak Silas didepan rumahnya. Tiba-tiba suara teriakan dan bunyi “Gedebukkk!” terdengar dibagian dapur dekat toilet. Segera aku bergegas untuk menghampiri suara tersebut. Ternyata ada seorang Mace (baca: panggilan ibu masyarakat Papua) sudah tergeletak di lantai dan kemudian ada salah seorang bapak yang menggendongnya. Usut punya usut ternyata Mace tersebut pingsan akibat kelelahan begadang untuk menyiapkan keperluan bahan makanan acara hari ini. Sontak aku kaget dan terharu. Ternyata lelahku belum seberapa dibandingkan mereka. Aku sangat terharu, sebegitu berkorbanya mereka demi mensukseskan acara hari ini. Aku kembali berpikir dan mengingat. Ternyata tidurku malam itu begitu nyenyak sehingga lupa ada orang yang bekerja hingga larut malam. Disini aku merasa egois.

Waktu menunjukan pukul 10.00 WIT. Para tamu undangan sudah banyak berdatangan. Kurang lebih aku melihat 60 kursi yang tersedia sudah hampir dipenuhi oleh para tamu undangan. Rasanya semua tamu undangan yang masuk daftar listku sudah hadir. Ternyata aku salah, orang nomor satu di kabupaten Biak Numfor yaitu bupati belum menginjakan kakinya di tempat acara. Aku masih ingat ketika sore hari sebelumnya salah satu tim beliau mengatakan bahwa beliau sendirilah yang akan menghadiri kegiatan. Hingga pukul 12.30 WIT bapak bupati tidak menampakan batang hidungnya. Sedangkan waktu terus berjalan dan cuacapun yang awalnya panas berubah mendung dan kemudian hujan. Orang yang dinanti tiba. Namun ternyata beliau hanya mengutus utusanya untuk menghadiri acara. Katanya “Pak bupati jadwal padat”. Kegiatan sudah mundur 4 jam. Jujur disini skill sabarku diuji. Bukan hanya acara hari ini, di acara-acara sebelumnya pun selalu terjadi kejadian yang sama. Akupun hanya menarik nafas sembari mengumpulkan semangat kembali untuk memulai acara.

Acarapun akhirnya dimulai. Dengan awalan doa dan sambutan-sambutan, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan panen bersama. Dalam sambutan aku ditunjuk untuk mengambil giliran nomor dua. Entah apa yang aku rasakan. Yang jelas saat itu aku sungguh emosional. Bukan masalah salah satu tamu penting yang telat hadir, namun aku membayangkan jika suatu saat aku akan meninggalkan tanah Biak ini. Bagaimanpun 3 tahun sudah cukup membuatku untuk mencintai tanah ini. Alhamdulillah akhirnya aku dapat melewati tantangan tersebut.

Kurang lebih acara berlangsung pukul 13.30 sampai 16.30 WIT. Semua kegiatan berjalan dengan lancar. Tertuang dalam daftar hadir bahwa kegiatan tersebut dihadiri kurang lebih 150 orang. Jujur ini membuatku khawatir tapi membahagiakan. Kenapa aku khawatir? aku khawatir karena jumlah peserta yang banyak sangat beresiko di situasi seperti ini. Namun disisi lain aku bahagia, sebab aku melihat sinar kebahagiaan terpancar dari tawa peserta yang hadir. Saat ini aku hanya berdoa, siapapun yang hadir acara hari ini selalu dalam keadaan sehat dan selalu bahagia.

Masih banyak evaluasi hari ini. Selain evaluasi aktivitas pekerjaan yang begitu menyita banyak waktu, aku perlu mengevaluasi hal lain dalam diriku. Rasanya aku perlu meminta maaf pada tubuh ini yang begitu lelah untuk menjalani aktivitas hari ini. Aku juga harus meminta maaf tentunya pada istriku tercinta jika waktuku untuknya terpotong karena lelah hari ini. Namun dibalik semua kata maaf yang seharusnya banyak terucap hari ini, ada ucapan terimakasih untuk tubuhku dan orang sekitarku hari ini. Terimakasih sudah kuat dan berbagi kebahagiaan hari ini. Semangat Ganang!

TANPA INSTAGRAM : 14 SEPTEMBER 2020

Hallo semuanya, mulai hari ini aku bakalan hidup tanpa instagram. Enggak selamanya sih, cuma 18 hari saja. Aku ingin menantang diriku sendiri. Jujur aku enggak mau menjadi intagram addict yang apa-apa selalu membuka media sosial tersebut disetiap waktunya. Rasanya ketergantungan dengan media sosial khususnya instagram akan menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu akan meledak dan melukai diriku sendiri. Bangun tidur buka handphone, makan buka handphone, naik motor buka handphone, padahal tidak ada notifikasi apapun di handphone. Lalu berapa banyak waktu yang aku buang?

Setiap hari tangan ini rasanya gatal jika tidak upload story atau minimal lihat story orang lain. Padahal setelah aku pikir-pikir, hal tersebut adalah sesuatu yang unfaedah. Aku pernah bertanya dalam hati ”sebenarnya apa sih tujuan aku untuk upload story atau membuat story di medsos?”. Awalnya memang aku berpikir, bahwa apa yang aku buat bisa bermanfaat untuk orang lain. Tapi lama-kelamaan justru niat tersebut berubah tanpa aku sadari. Tidak mau munafik, hati kecilku mengatakan bahwa ada dorongan ingin menarik perhatian orang lain dari story yang kita buat di media sosial. Apalagi kalo bukan pujian atau image baik yang aku cari. Entah ini hanya perasaanku saja atau mungkin orang lain merasakan hal yang sama denganku.

Mulai hari ini aku berjanji pada diriku sendiri harus meminimalisasi penggunaan media sosial. Aku merasakan dampak yang baik ketika beberapa hari tidak bermain media sosial. Ya, 2 minggu yang lalu handphoneku rusak, jadi otomatis aku tidak bermain handphone atau media sosial. Selama kurang lebih 3 hari tidak berselancar di dunia maya aku merasa hidupku lebih produktif. Buktinya 1 buku telah selesai aku baca dalam kurun waktu 3 hari tersebut. Aku sendiri tidak mengatakan bahwa penggunaan media sosial itu sepenuhnya buruk. Tidak. Namun media sosial harus digunakan secara tepat dan tidak berlebihan. Media sosial mungkin awalnya diciptakan untuk memudahkan kita dalam berkomunikasi. Seiring berjalanya waktu hal tersebut justru menjadi boomerang bagi penggunanya. Coba kita hitung secara matematis, jika kita hitung berapa lama kita bemain media sosial setiap hari? Lebih lama mana interaksi sosial kita secara real life dengan orang sekitar kita? Jika kita menghabiskan lebih banyak di dunia maya maka ucapkan selamat pada diri kita sendiri. Selamat kita sudah menjadi budak media sosial tanpa kita sadari.

Sebagai gantinya, mulai hari ini aku bakalan ngejurnal diriku sendiri setiap hari lewat blog ini. Paling enggak aku harus konsisten menulis setiapa hari tentang story hidup yang aku lewati setiap hari selama aku tidak bermain instagram. Oke ini jurnal atau story hari ini kita mulai sekarang. Hari ini seperti biasa aku berangkat kerja pukul 09.20. Hari ini au memang lupa untuk pamit berangkat erja epada sang istri. Hari ini aku benar-benar gugup. Tujuan pertama adalah warung makan. Aku makan di warung solo yang kurang lebih jaraknya 500 m dari kos ku. Pagi ini aku memesan opor ayam dan es teh dengan total 20.000 rupiah. Setelah makan aku tidak langsung beranjak pergi karena hujan datang secara tiba-tiba. Aku isi waktu luangku sembari menunggu dengan bermain game mobile legends. Kurang lebih ketika waktu menunjukan pukul 10.25 aku bergegas untuk menuju tujuan utamaku yaitu kebun yang berlokasi di kampung Wirmaker, Distrik Yendidori. Jaraknya perkiraanku adalah 25 km.

Jalan menuju tempat tersebut membutuhkan waktu kurang lebih 40 menit. Sebenarnya jaraknya dekat namun kondisi jalan yang berlubang membuatku hanya bisa memau kendaraan dengan kecepatan 40 km/jam. Salah satu ritual utama dalam perjalanan adalah mendengarkan podcast. Podcast episode 37 dari balon terbang dengan judul belajar menerima, menemaniku sepanjang berkendara. Yang aku ingat dari podcast itu adalah pentingnya mensyukuri apa yang Tuhan takdirkan untuk hidup kita. Jika hari ini adalah kegagalan yang kita dapat, maka bukan menyerah solusi terbaiknya. Solusi terbaiknya menerima kegagalan dan berusaha mencapai keberhasilan dengan caranya kita masing-masing. Kurang lebih begitulah isi podcast yang aku dengarkan hari ini.

Sesampainya di tempat tujuan aku menemui Pak Silas, om Yunus dan om Yoas. Mereka adalah petani sang pemilik kebun. Aku memberikan sisa surat undangan dan papan nama tanaman sesuai dengan kesepakatan kita kemarin. 30 menit kita berbincang. Perbincangan kita yang aku ingat adalah hanya seputar kebun dan acara farmers field day yang akan kita lakukan esok hari. Setelah itu aku pamit untuk melihat kondisi kebun sekaligus melihat keadaanya. Alhamdulillah ternyata kondisi tanaman di kebun dalam keadaan yang baik-baik saja. Ketia aku berada di kebun, au melihat beberapa anggota kelompok tani pak Silas sedang mengerjakan dekorasi tempat untu makan acara esok hari. Tidak lupa aku menyapa dan melempar senyum pada mereka.

Kurang lebih 2 jam aku berada di tempat itu Kemudian aku izin pulang karena harus bertemu dengan Nando, slah seorang temanku. Kurang lebih aku tiba di kos pukul 14.30. Setibanya di kos aku beberes dan kemudian sholat dzuhur dan kemudian dilanjutan sholat ashar. Setelah beristirahat selanjutnya pukul 16.00 aku pergi untuk makan di salah satu tempat makan yaitu Oke Bento. Aku memesan ayam geprek paket A seharga 23.000 rupiah. Selanjutnya aku menuju rumah Nando. Niat awal aku ingin mengirimnya surat izin peminjaman drone. Tapi ternyata aku lupa untuk mengganti isi suratnya. Aku mengatakan padanya bahwa besok aku akan memberianya surat. Kemudian aku pulang.

Pukul 18.08 aku bergegas untuk  sholat. Tidak lupa aku memberitahu sang istri bahwa aku sudah berada di kos dan mau beberes sholat maghrib. Setelah sholat maghrib aku tak lupa berkomunikasi dengan istri. Komunikasinya singat, hanya berkabar, menanyakan aktifitas hari ini dan saling memberi doa dan semangat.  Kebetulan hari ini adalah hari Senin, hari dimana aku mempunyai jadwal olahraga yaitu badminton. Setelah sholat isya aku pamit ke istri untuk berangat menuju lapangan olahraga. Dari pukul 19.30 sampai 21.43 aku melakukan aktifitas bermain badminton. Hari ini aku bermain 3 kali dan semuanya kalah. Aku tidak enjoy bermain karena senar dari raketku agak sedikit kendor. Sepulangnya bermain badminton seperti biasa aku menunggu keringat yang ada dibadanku mengering. Aku mandi dan kemudian membeli sekaleng sprite untuk menemaniku menulis tulisan ini.

Yaps, hari ini terasa cukup melelahkan. Tapi tidak mengapa, aku masih bisa bersyukur diberikan kesempatan bernafas sampai detik ini. Evaluasi untuk hari ini aku rasa tidak begitu banyak. Tapi mungkin dilain kesempatan aku harus lebih prepare dan sabar dalam menghadapi situasi apapun. Kegiatan esok hari bisa jadi akan terasa lebih melelahkan daripada hari ini. Hal yang aku ingat untu besok adalah aku akan melaksanakan kegiatan farmers field day, berangkat pukul 07.30 dan membeli sabun cuci tangan untuk kegiatan tersebut. Semangat untuk besok Ganang!