Ghibah Itu Nikmat

Yummy nikmatnya ghibah

Kali ini aku pengen ngomongin tentang bergunjing alias ghibah. Manusia mana sih yang gak pernah ghibah, pasti kita semua pernah melakukanya dong yah. Entah itu di sengaja ataupun tidak. Berdasarkan pendapat para ulama, ghibah itu menceritakan aib orang lain tanpa keperluan sama sekali. Berarti kalau ada perlu boleh dong? Hmm boleh tapi ada aturanya cuy.

Biasanya ghibah itu diawali dengan kata “Eh tahu gak sih?” atau “Kamu tahu si ini gak?” disitulah awal ghibah dimulai. Semua orang juga pasti tahu bahwa yang namanya ghibah itu gak baik. Tapi terkadang kita seperti terbawa arus dan cenderung menikmatinya. Rasanya kurang nikmat aja kalau kita lagi nongkrong tapi gak ngomongin orang lain, berasa kaya sayur tanpa garam gitu hehe.

Aku sendiri jujur terkadang ikut terbawa suasana. Awalnya ketika sesi per-ghibahan di mulai, aku hanya terdiam dan sudah aku niatkan dalam hati untuk gak mau ikutan. Eh setelah per-ghibahan mulai pada titik klimak jadi deh mulai nimbrung dan ikutan (jangan ditiru yah gaes). Memang yah namanya manusia, selalu mencari kejelekan orang lain. Mungkin berasa bahagia ketika tahu orang lain mempunyai kekurangan.

Aku tahu kok ghibah itu dosa dan aku juga tahu kalau di ghibahin orang lain itu gak enak. Gimana yah, habisnya ghibah itu nikmat sih. Tapi hati-hati loh kumpul sama orang yang suka ghibah, bisa jadi teman-teman kalian juga sering ngghibahin kalian pas kalian gak ada hehe.

Rasa-rasanya ghibah sudah menjadi budaya yang melekat dan sulit untuk dilepaskan di kehidupan nyata. Jangankan di kehidupan nyata, di media sosial aja banyak akun-akun atau fanpage tentang dunia perghibahan. Contohnya turah lambe, lambe nyinyir dan akun gosip lainya. Hebat kan sekarang, ghibah aja di fasilitasi, kurang enak apa coba. Kalau dalam islam sendiri ghibah itu disamakan dengan memakan daging saudaranya sendiri loh. Wuih ngeri kan yah, kanibal cuy kita. Mendingan makan daging ayam deh dari pada makan daging saudaranya sendiri. Ghibah itu merupakan dosa besar. Aku pernah membaca salah satu hadist yang intinya, jika yang kamu bicarakan tentang orang lain itu benar maka itu adalah ghibah, tapi jika apa yang kamu bicarakan tidak benar maka itu adalah fitnah. Nah, sampai sini kita bisa paham bahwa entah itu benar atau salah yang namanya ngomongin kejelekan orang lain itu dilarang. Bukan hanya itu saja, ghibah juga dipandang dosanya lebih berat daripada zinah loh.
Rasulullah pernah mengatakan “Sesungguhnya ghibah itu dosanya lebih besar daripada zinah”.
Lalu seorang sahabat bertanya, “Bagaimana bisa?” Rasulullah Saw. menjelaskan, “Seorang laki-laki yang berzina lalu bertobat, maka Allah bisa langsung menerima tobatnya. Namun pelaku gibah tidak akan diampuni sampai dimaafkan oleh orang yang digibahnya,”(HR At-Thabrani). Hayoh nikmat mana? Ghibah atau zinah? Hehe

Tapi tunggu dulu, ternyata ada ghibah yang diperbolehkan loh. Dalam kitab Riyadhus shalihin karya Imam An Nawawi dijelaskan bahwa ghibah itu diperbolehkan jika tujuanya benar secara syarii dan tidak bisa diwujudkan kecuali denganya. Salau satu ghibah yang diperbolehkan misalnya, mengadukan kezhaliman orang lain untuk mengubah kemungkaran. Contoh, kalau penguasa atau hakim itu berbuat gak adil kita boleh mengadukan kezhaliman penguasa tersebut ke orang yang mungkin bisa mengubahnya. Yah pada intinya jika kejelekanya sudah terang-terangan atau sudah melampaui batas kita diperbolehkan untuk menggunjingnya. Tapi tentunya dengan niatan yang baik untuk merubah keadaan. Jika niatnya cuma buat gaduh atau ingin merusak reputasi sih jelas haram dan dosa.

Aku sendiri sih saat ini berusaha keras untuk meninggalkan dunia per-ghibahan. Bisa lah untuk berproses. Yok mulai coba memutus rantai ghibah mulai dari diri sendiri. Kalau dengar teman lagi nge-ghibah ria coba lah kita alihkan pembicaraan, kalau kita masih follow akun-akun gosip cobalah unfollow pelan-pelan. Dari pada follow akun gosip dan gak di follback kan mendingan follow ig aku aja hehe.
Ayok coba bareng-bareng buat gak nge-ghibahin orang lain. Katanya pengen masuk surga? Gak boleh gitu dong. Ghibah akan muncul bukan hanya karena ada niat dari pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah waspadalah.

Flores Bercerita

Akhirnya perjalanan yang di tunggu-tunggu tiba. Yah gue udah menyiapkan plan untuk traveling kali ini sejak kantor gue ngumumin untuk mengadakan annual meeting di Flores. Oke gue mulai ceritain yah bagaimana serunya perjalanan ke tempat yang gue sebut alam lain.

Gue dari tempat domisili Biak berangkat tanggal 27 Oktober 2019 kemudian transit di Makasar dan sampai Maumere 28 Oktober 2019 pagi. Saat itu gue dan rombongan berjumlah 5 orang langsung menuju ke tempat annual meeting sekaligus tempat menginap. Oh iyah btw untuk kegiatan kali ini gue satu kamar sama teman dari NTT, namanya Frinto Sopaba. Mukanya sangar tapi hatinya hello kity. Loh kok bisa gue bilang hatinya hello kity? Baca aja tulisan ini sampai selesai hehe.

Kurang lebih jarak dari bandara ke hotel tempat menginap gur 7 KM dan ditempuh selama 15 menit. Sesampainya di hotel gue sungguh takjub dengan view yang ada disekitaran hotel. Waow amazing, dengan dipadukan kolam renang dan pantai yang indah, ini merupakan sambutan selamat datang yang tidak pernah gue lupakan seumur hidup gue (ah lebay amat luh nang haha). Kalo pengen lihat keindahanya, coba aja nginap di Capa Resort Maumere. Bagi kalian yang mau honeymoon cocok lah yah.

Hari berikutnya 29 Oktober 2019 gue habiskan untuk kegiatan kantor. Dimulai dengan senam pagi dipinggir pantai hingga presentasi poster sampai malam hari. Luar biasa rasanya bisa senam dengan lagu maumere di kota maumere hehe. Tau lagunya maumere kan? Itu loh yang liriknya “putar ke kiri e, nona manis putar lah ke kiri, ke kiri dan ke kiri blablabla”.
Ada kenangan tersendiri untuk kegiatan kantor kali ini. Ya untuk kali ini bos dan semua staff satu kantor berkumpul jadi satu, yang awalnya hanya sering berbincang lewat aplikasi Whatsaapp, untuk kali ini kita bisa bercengkrama secara langsung. Inilah pertama kalinya gue ketemu sama teman-teman sejawat gue dikantor. Walaupun kegiatan pada hari itu padat merayap kaya jalanan ibu kota, tapi gue sangat menikmati kegiatan hari itu.

Selanjutnya tanggal 30 Oktober 2019. Pada hari itu masih berlanjut untuk kegiatan kantor. Bedanya ketika kemarin full indoor, sekarang kegiatan full outdoor. Ya kita mengunjungi lahan petani lokal yang ada disana. Namanya juga berkecimpung di dunia pertanian, mau gak mau yah pasti akan berhubungan dengan kebun dan lahan. Disana kita wawancara petani sembari melihat tanaman tomat milik petani. Jujur saat itu gue gak fokus, saat yang lain mendengarkan dan tanya jawab dengan petani, gue dibelakang sibuk diem dan foto-foto. Maklum lah yah, saat itu pikiran gue udah pengen banget ke pantai. Memang agenda setelah itu adalah outbond di pantai. Tau sendiri lah yah gue kan anak pantai, jadi hasrat gue untuk ke pantai saat itu sudah tak terbendung lagi hehe. Akhirnya setelah kunjungan lapangan otw lah kita menuju pantai, namanya pantai Koka. Perjalanan lumayan jauh kurang lebih 1 jam dari kota. Dengan jalan khas flores yang berkelok-kelok akhirnya sampai juga di Koka beach. WAW super sekali pantainya. Mirip di Bali sih, tapi mungkin belum ter expose aja dan perlu di kembangkan lagi sarana dan prasarananya.

Sesuai dengan agenda, mulailah lah kita games. Oh iyah gue lupa, jadi gue itu rombongan dan rombonganya berjumlah 28 atau 30 orang (gue lupa hihi). Lumayan rame lah dan yang pasti seru kalo rame an. Untuk games sendiri kita dibagi menjadi 3 kelompok, dan gue kebagian kelompok yang diisi orang-orang kalem alias pendiem (termasuk gue loh yah). Alhasil ketika kelompok lainya rame yel-yel kita cuma mbikin yel-yel seadanya. Tapi walaupun begitu kita tetap semangat dong, yah walaupun semua games yang kita ikuti banyak kalahnya hehe.

Pengen lihat keseruanya kayak gmana? Lihat sendiri tuh dibawah

Pantai 2
keseruan games di pantai Koka
Pantai
selesai games kita foto dongs dengan bckground yang aduhay

Seperti biasa, setelah games yang sangat menguras tenaga, dilanjutkan dengan ritual yang wajib dilakukan yaitu makan dan foto-foto hehe (apaan sih hehe mulu). Ritual pertama selesai, dilanjut lah ritual kedua, foto-foto. MasyaaAllah, setiap sudut pantainya itu loh bersih dan indah. Pengen nangis rasanya. Di saat itu gue mikir, kok bisa yah gue sampai sinih. Bisa-bisanya gue sampai ditempat yang jauh dan belum pernah terbayangkan satu kalipun. Kalau bukan karena Allah karena siapa lagi? Saat itu gue cuma bisa bersyukur.

Seriusan ini beneran kuereenn buanget pemandanganya. Gue gak bisa cerita bagusnya kayak gmana, yang jelas keindahanya sudah cukup membuktikan bahwa tidak akan mungkin ada makhluk yang bisa merancang tempat seindah ini selain Allah. Sabar-sabar, nih gue tunjukin fotonya.

Ganang
Gue foto dong di bukit dekat pantai
pak edwin
Pak bos foto loncat
Pantai indah
Ini nih abang Frinto

Masih kurang fotonya? Bisa cek aja di IG gue @ganangprakoso hehe

Gak kerasa waktu sudah semakin sore dan waktu kembali ke hotel pun telah tiba. Sesampainya di hotel, rombongan pun kembali ke kamar masing-masing untuk persiapan dinner. Acara dinner pun dimulai. Ternyata diacara tersebut juga satu senior dan teman kantor gue berpamitan sekaligus mengumumkan perpisahanya dari kantor (baca : resign). Hmm sedih sih, walaupun kita jarang ketemu tapi yang namanya perpisahan pasti akan meninggalkan duka. Gue cuma bisa berdoa yang terbaik untuk senior gue tersebut. Selesai acara melow-melowan tersebut tiba lah diacara pengumuman pemenang poster. Fyi, jadi kantor gue itu membuat acara yang isinya mewajibakan staff nya untuk presentasi program melalui poster dan di nilai. Gak di sangka-sangka ternyata gue juara satu (bukanya sombong,tapi mau gimana lagi wong memang dapat juara satu hehe). Senang sih gue disitu, dapat hadiah tas dari kantor. Acara dilanjutkan dengan makan malam.

Berikutnya, tanggal 31 Oktober 2019. Seperti hari pertama di Maumere, hari itu dihabiskan untuk diskusi didalam ruangan. Meskipun didalam ruangan full seharian tapi seru kok. Disitu kita diskusi banyak tentang kendala-kendala yang dihadapi saat kita kerja dilapangan. Kegiatan tersebut berlangsung hingga sore pukul 15.00. Sebenernya sih kalau sesuai jadwal kita selesai lebih sore, tapi berhubung teman-teman sudah pengen jalan-jalan yaudah dipercepat.

Namanya traveling ke suatu daerah, pasti lah yah ada barang khas daerah tersebut yang pengen kita beli. Kalau Flores memang sudah menjadi rahasia umum terkenal dengan kain tenunya. Tanpa gerak lambat cuss lah kita menuju pasar pusat kain tenun. Nama tempatnya gue lupa sih apaan, tapi yang jelas disituh banyak yang jual kain dan pernak-pernik khas Flores. Mulailah kita pilah pilih dan tawar menawar. Berhubung gue udah janjiin seseorang buat gue beliin kain Flores, mau gak mau gue harus beli deh (gak terpaksa kok ngasihnya, InsyaaAllah ikhlas lahir batin). Akhirnya dapat deh kain yang cocok motifnya dan tentunya juga cocok harganya hehe. Untuk kalian yang mau ke Flores, wajib deh pokoknya beli kain tenun. Kainya itu khas, dan genuine gitu loh, pokoknya dhabestt deh. Bisa dibuat baju atau rok tuh kain, dan bisa juga buat foto ala-ala haha. Selesai dari pasar kain, kita menuju ke pasar-pasar berikutnya. Ada tiga tempat lagi yang kita kunjungi, tapi di ketiga tempat itu gue gak beli apa-apa dan cuma ngekor teman-teman gue yang belanja. Hemat cuy.

Belanja beres, kembali ke hotel. Sampai hotel gue kembali ke kamar untuk sejenak beristirahat. Istirahat, rebahan, mandi dan packing untuk persiapan ke Kelimutu. Kalian tau kan Kelimutu? Iyah danau yang ada di duit lima ribu jaman dulu itu loh, yang katanya warnanya bisa berubah itu. Masak gak tau? Nih gue tunjukin gambarnya.

Lima-ribu.jpg
Masih ingat uang ini? ini nih danau Kelimutu

Udah tau kan yah.

Tanggal 1 November 2019, pukul 02.00 WITA mulai lah gue dan empat teman gue menuju ke Kelimutu. Kenapa berangkatnya harus dini hari karena kita mau ngejar sunrise, berhubung waktu perjalanan yang kita tempuh itu kurang lebih 3 jam dari kota Maumere jadi kita wajib berangkat dini hari. Subanallah, ternyata jalan menuju ke Kelimutu dari Maumere sungguh mengerikan. Seperti yang gue katakan di awal, bahwa Flores itu terkenal dengan jalanya yang berkelok kelok. Selama perjalanan itu gue cuma bisa istigfar. Bagi teman-teman yang baca tulisan gue ini, kalau mau ke Kelimutu dari Maumere usahakan pilih driver yang berpengalaman. Gue sih yakin, supir biasa yang gak terbiasa ke Kelimutu bakalan bahaya. Gilaa pokoknya, jalannya itu loh MasyaaAllah sekali.

Ditengah perjalanan tiba-tiba gue ke inget kamera gue. Loh kamera dimana? Kok gak ada? Jangan-jangan lupa gue bawa. Padahal pas lagi nunggu mobil tadi perasaan bawa, tapi ini kok gak ada. Akhirnya gue telfon tuh pihak hotel, siapa tau kan ketinggalan di teras hotel tempat gue nunggu mobil tadi. Astagfirullah, ternyata iyah ketinggalan. Hmm kenapa sih yang ketinggalan kamera, kenapa bukan kenangan buruk gue aja yang tertinggal tsaaahhh. Untungnya dari pihak hotel ngamanin tuh kamera. Gue kecewa sih sebenarnya disituh. Bakalan gak dapat momen deh gue tanpa kamera. Tapi yaudahlah namanya juga manusia, kadang teledor (dasar gue).

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dan mbikin jantung deg deg an, tiba lah di danau Kelimutu. MasyaaAllah, brrrr dingin banget ternyata. Kita ber lima sampai disana kurang lebih pukul 05.15. Untuk menuju danaunya sendiri kita harus melewati ribuan anak tangga. Kalau menurut mbah google sih jumlahnya cuma 236 anak tangga, tapi perasaan gue sampai seribuan deh. Hoax tuh palingan mbah google. Untuk sampai puncak dan melihat danaunya dari atas cukup menguras tenaga, ditambah suhu yang saat itu berkisar 20 derajat celcius, sudah cukup membuat gue ngos-ngosan.
Wuihhhh masyaaAllah, memang betul kata Allah “sesudah kesulitan itu ada kemudahan” setelah sampai di puncak ternyata memanng luar biasa kuerenn. Ini salah satu tempat terbaik sih yang pernah gue kunjungi. Di ketinggian 1.690 mdpl gue bisa melihat tiga danau yang menakjubkan, ditambah oranges nya matahari yang baru terbit. Berasa di alam lain, sejuk dengan kicauan burung yang merdu, dipadukan dengan sumilir angin yang membuat bulu kuduk berdiri dan begitu sempurna.

Pengen lihat fotonya? Eitss nanti dulu. Gue mau cerita tentang danau Kelimutu berdasarkan sumber yang gue baca.

Danau Kelimutu adalah danau vulkanis yang terletak di kecamatan Kelimutu, kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Di Kelimutu ini ada tiga danau yang memiliki warna dan nama yang berbeda, yaitu Tiwu Ata Mbupu, Tiwu Nuwa Muri Koo Fai dan Tiwu Ata Polo. Berdasarkan cerita masyarakat lokal, bahwa ketiga danau tersebut merupakan tempat para arwah berkumpul.

Saat gue berada disana, danau pertama dan kedua berwarna biru cerah dan danau ketiga berwarna hitam. Konon warna tersebut bisa berubah-ubah tergantung dengan kondisi alam nya. Jika warna danau berubah menjadi putih, itu pertanda bahaya karena aktivitas gunung sudah mulai meningkat.

Berhubung Kelimutu juga termasuk kawasan taman nasional jadi kita bisa melihat lingkungan yang masih sangat asri. Disekitar danau juga banyak monyet-monyet. Bagi pembaca yang mungkin berkunjung ke Flores, selain labuan bajo kalian wajib untuk kesini. Gak bakalan rugi deh dijamin. Untuk tiket masuknya juga murah kok, per orang tidak sampai 10 ribu.

Masih gak percaya dengan keindahanya Kelimutu? Oke deh gue tunjukin fotonya.

Kel
Danaunya keren kan gaes?
Kelimutu 1
Ala-ala silau matahari
Kelimutu
Foto ala-ala pakai kain Flores gituh

Oke, percaya kan?

Setelah puas menikmati pemandangan surga, gue dan teman-teman mulai meluncur untuk pulang kembali ke Maumere. Sebelum pulang, seperti biasa kita melakukan ritual wajib yaitu makan. Mampir lah kita ke salah satu kampung yang jaraknya kurang lebih 15 kilometer an, namanya kampung Moni. Memang ajib bener dah, udara dingin makan indomie dan teh hangat, sungguh luar biasa nikmatnya. Ditambah pemandangan alam yang luar biasa, top markotop deh pokoknya. Kalo Kelimutu recomendet banget nih untuk mampir makan di kampung Moni.

Saatnya melanjutkan perjalanan menuju hotel. Di sepanjang perjalanan itu gue tidur, maklum lah yah penyakit orang kenyang “ngantuk” hehe.

Masih ditanggal yang sama 1 November 2019. Jadwal gue hari itu memang pulang kembali ke Biak. Seperti umumnya perpisahan, mulai lah kita disitu merasa sedih. Walaupun gue dan teman-teman disitu bareng-bareng kurang lebih hanya 5 hari tapi kita sudah berasa sangat dekat. Nah teman sekamar gue si Frinto, dia kelihatan seperti mau nangis tapi ditahan. Gue pikir nih bocah garang, eh ternyata hatinya lembut macam helo kity. Gue masih ingat betul apa yang doi katakan “Mas saya itu orangnya mudah terharu. Lebih baik tidak bertemu sama sekali dari pada harus berpisah. Bisa malas makan saya satu minggu”. Haha gue cuma bisa ketawa sih, walaupun di hati kecil gue juga merasa kehilangan dan sedih. Tapi tenang aja, pasti kita semua bisa ketemu lagi kok.

Akhirnya perjalanan yang menakjubkan pun berakhir. Gue kembali ke tempat perantauan lagi, begitupun teman gue yang lain. Banyak kesan dan pesan yang gue dapat untuk traveling kali ini. Kita mungkin bisa bermimpi untuk melangkah ke tempat yang ingin kita tuju, tapi Allah yang punya kehendak. Jauh dekatnya mimpi kita, akan bisa terwujud dengan ikhtiar berupa doa dan kerja keras. Tempat yang indah diciptakan bukan hanya untuk di nikmati tapi juga di hayati dan di syukuri. Terimakasih semesta karena Engkau lah Flores bisa bercerita.

RIMBA : BERTEMU KEPALA SUKU

Rimba malu

Masih tentang nya, Rimba. Malu dan bingung ketika Rimba menanyakan padaku “Apakah engkau sudah menemukan sang kepala suku tuan?” aku pun hanya bisa menggelengkan kepala dengan perlahan. Raut muka Rimba tampak temaram.

Rimba dengan lirih menceritakan apa yang ia lihat kemarin dulu. Dibalik semak belukar khas hutan yang rimbun, Rimba melihat sebuah rumah yang sangat megah. Ada dua rumah. Rimba hanya bergumam, mungkin itu rumah Fira’aun dan penyihir jahat. Bukan tanpa alasan, sebab ia mencium bau wewangian dan telur busuk diantara rumah.

Seperti anekdot nenek moyang terdahulu, seorang pemimpin memiliki aroma tubuh khas yang wangi semerbak, sedangkan tukang sihir ber aroma tak sedap. Hal itu sudah cukup membuat rasa sangsi Rimba menghilang, ia yakin sang kepala suku ada di dalam salah satu rumah.

Aku turut senang, melihat sebentar lagi Rimba akan mebersamai kepala suku nya. Sebab memang inilah kewajiban dari kepala suku untuk mendamaikan tanah ini. Membangun tanah damai dan mengatakan pada burung surga bahwa ia akan baik-baik saja tinggal ditanah ini.

Dari mata sayu Rimba aku dapat menangkap sebuah cerita. Rimba ingin tungku api itu tidak kembali membakar tempat tinggalnya. Tidak peduli sebanyak apa kepala suku mengambil emas dari tanahnya, hal terpenting ia ingin hidup dengan damai. Rimba tidak tamak, ia sederhana dan mudah menerima.

Dibalik semak belukar itu satu per satu langkah kakinya berjalan mundur. Rimba cerdas, dia tidak ingin menghadap sang kepala suku dengan tangan kosong. Ia ingin mengambil emas dan logam mulia lainya untuk memuaskan sang kepala suku.

Rimba tiba-tiba menangis. Aku pun memegang pundaknya seraya berkata “Kenapa wahai Rimba?”
Dengan bahasa isyarat ia mengangkat kedua tanganya membentuk sebuah angka 3 dan 2.
Aku baru ingat bahwa tiga puluh dua adalah tanggal dimana percikan api dari tungku itu menghancurkan rumahnya. Di waktu itu pula, banyak sahabat dan sanak saudara Rimba pergi terusir.

Selagi Rimba mengumpulkan buah tangan untuk sang kepala suku, Rimba berkata pada sahabat dan saudaranya yang terpaksa harus terusir “Sebentar lagi kepala suku kita akan sembuh dari penyakit “tuli” nya. Yakinlah, niscaya tanah surga ini akan kembali baik-baik saja”.

RIMBA : BERTEMU KEPALA SUKU

Rimba malu

Masih tentang nya, Rimba. Malu dan bingung ketika Rimba menanyakan padaku “Apakah engkau sudah menemukan sang kepala suku tuan?” aku pun hanya bisa menggelengkan kepala dengan perlahan. Raut muka Rimba tampak temaram.

Rimba dengan lirih menceritakan apa yang ia lihat kemarin dulu. Dibalik semak belukar khas hutan yang rimbun, Rimba melihat sebuah rumah yang sangat megah. Ada dua rumah. Rimba hanya bergumam, mungkin itu rumah Fira’aun dan penyihir jahat. Bukan tanpa alasan, sebab ia mencium bau wewangian dan telur busuk diantara rumah.

Seperti anekdot nenek moyang terdahulu, seorang pemimpin memiliki aroma tubuh khas yang wangi semerbak, sedangkan tukang sihir ber aroma tak sedap. Hal itu sudah cukup membuat rasa sangsi Rimba menghilang, ia yakin sang kepala suku ada di dalam salah satu rumah.

Aku turut senang, melihat sebentar lagi Rimba akan mebersamai kepala suku nya. Sebab memang inilah kewajiban dari kepala suku untuk mendamaikan tanah ini. Membangun tanah damai dan mengatakan pada burung surga bahwa ia akan baik-baik saja tinggal ditanah ini.

Dari mata sayu Rimba aku dapat menangkap sebuah cerita. Rimba ingin tungku api itu tidak kembali membakar tempat tinggalnya. Tidak peduli sebanyak apa kepala suku mengambil emas dari tanahnya, hal terpenting ia ingin hidup dengan damai. Rimba tidak tamak, ia sederhana dan mudah menerima.

Dibalik semak belukar itu satu per satu langkah kakinya berjalan mundur. Rimba cerdas, dia tidak ingin menghadap sang kepala suku dengan tangan kosong. Ia ingin mengambil emas dan logam mulia lainya untuk memuaskan sang kepala suku.

Rimba tiba-tiba menangis. Aku pun memegang pundaknya seraya berkata “Kenapa wahai Rimba?”
Dengan bahasa isyarat ia mengangkat kedua tanganya membentuk sebuah angka 3 dan 2.
Aku baru ingat bahwa tiga puluh dua adalah tanggal dimana percikan api dari tungku itu menghancurkan rumahnya. Di waktu itu pula, banyak sahabat dan sanak saudara Rimba pergi terusir.

Selagi Rimba mengumpulkan buah tangan untuk sang kepala suku, Rimba berkata pada sahabat dan saudaranya yang terpaksa harus terusir “Sebentar lagi kepala suku kita akan sembuh dari penyakit “tuli” nya. Yakinlah, niscaya tanah surga ini akan kembali baik-baik saja”.

RIMBA

Si Rimba
Si Rimba

Sebut saja dia Rimba. Seorang makhluk Tuhan yang diciptakan ditanah penuh berkat.
Tanah burung surga di ujung Nusantara.
Tempat kaya nan anggun dengan matahari terbit lebih awal.
Lautnya yang membiru, hutanya yang menghijau dan daratanya yang penuh dengan emas. Membuat Rimba berbangga diri dengan rumahnya.

Rimba bercerita padaku bahwa tanahnya sedang tidak baik-baik saja. Makhluk yang menempatinya sedang sakit dan saling menyakiti.
Entah apa yang sebenarnya terjadi.
Seyogianya peradaban disini jauh lebih maju dibandingkan negara Atlantis dalam dongeng. Tapi nyatanya apa? Justru merana yang kini di rasa.

Padaku Rimba kembali bercerita. Percikan api dalam tungku telah menghabiskan tempat tinggalnya. Rimba tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa untuk memadamkan apinya.
Tolong tolong! Rimba terus berteriak. Sayangnya kepala suku tak mendengar teriakan dan tangisanya.
Habis sudah rumah si Rimba dan ia pun bersedih.

Melanjutkan ceritanya. Ditempat perenungan Rimba pun berpikir, apa gunanya tanah ini penuh emas jika percikan api dalam tungku terus menyala. Padahal kemarin dulu sang kepala suku menjamin api itu akan padam dengan syarat menyerahkan emas pada nya. Tapi apa? Bohong! Sekarang dia tuli.
Rimba menceritakanya dengan penuh emosional.

Rimba pun tak kuat untuk meneruskan ceritanya. Ia hanya menitipkan sebuah pesan padaku “tolong cari sang kepala suku kami. Katakan padanya jika mau emas seluruhnya dari tanah ini maka ambillah. Tapi tolong padamkan api ini dan bangunlah rumah kami kembali”.

HIV DAN AIDS : MONSTER SESUNGGUHNYA DI TANAH PAPUA

aidsdlm
HIV/AIDS (news.detik.com)

Jika sebuah penyakit itu mampu membunuh sebagian besar masyarakat di Papua, yang terbunuh bukan Papua tapi Indonesia. Aku menulis karena aku peduli.

HIV dan AIDS, sebenarnya sudah lama sekali ingin menulis tentang masalah ini. Mungkin bagi sebagian kalangan ini terlihat tabu atau mungkin kurang menarik dibahas, tapi bagi saya sendiri ini adalah masalah yang mungkin semua orang harus tahu. Seperti yang diketahui bahwa HIV dan AIDS merupakan penyakit mematikan yang sampai sekarang belum ditemukan obatnya.  HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh dengan menghancurkan sel CD4 (sel T). Sel CD4 adalah bagian dari sistem imun yang spesifik bertugas melawan infeksi. Sementara itu, AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome. AIDS dianggap sebagai tahap akhir dari infeksi HIV jangka panjang. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa AIDS adalah sebuah penyakit kronis akibat infeksi HIV yang memunculkan sekelompok gejala berkaitan dengan menurunnya daya tahan tubuh (https://hellosehat.com).

Kali ini saya ingin berbicara tentang penyakit mematikan ini di tanah Papua. Ditengah hiruk pikuknya kasus rasisme yang terjadi terhadap masyarakat Papua, ada sebuah momok menakutkan yang terjadi di bumi cendrawasih ini. Momok itu tak lain dan tak bukan adalah HIV/AIDS. Itulah musuh terbesar bagi masyarakat Papua. Bukan bermaksud untuk mengkaburkan masalah yang lain, tapi bagi saya yang hidup ditanah Papua rasanya sangat bosan ketika ada tetangga terdekat atau teman dari teman saya disini meninggal karena HIV/AIDS. Saya cinta tanah ini dan saya ingin masyarakat ditanah ini tumbuh sehat dan sejahtera. Maka dari itu saya ingin penyakit ini musnah dari tanah ini. Berdasarkan literatur yang saya dapatkan, dari data Kemenkes RI, tanggal 27 Agustus 2019, menunjukkan dari tahun 2005 – Juni 2019 jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS di Papua mencapai 57.027 yang terdiri atas 34.473 HIV (peringkat 4) dan 22.554 AIDS (peringkat pertama). Ini sama dengan 12,21 persen dari kasus nasional (466.946). Sungguh mengerikan bukan? Tentunya hal ini menjadi tugas kita bersama untuk membantu menyelesaikanya.

Yang namanya penyakit pasti ada penyebabnya. Sesuatu yang mustahil jika penyakit itu datang dengan sendirinya. Penyakit ini banyak disebabkan oleh aktivitas beresiko seperti seks bebas dan penggunaan jarum suntik yang tidak steril. Saya sangat beruntung sekaligus miris hidup disini. Saya beruntung karena saya bisa tahu ada masalah besar di tanah ini yang mungkin luput dari perhatian banyak orang. Saya miris karena tidak seharusnya penyakit ini banyak membunuh saudara saya disini. HIV/AIDS memang sampai sekarang belum ditemukan obatnya, tapi paling tidak kita bisa mencegahnya bukan?

Ada beberapa cerita menarik dari seorang masyarakat lokal disini, dia adalah pemerhati kesehatan. Sebut saja namanya Pak Emo (bukan nama sebenarnya). Pak Emo tidak bisa menyangkal bahwa banyak masyarakat asli Papua meninggal karena penyakit HIV/AIDS. Banyak penderita penyakit tersebut meninggal diusia yang sangat muda yaitu antara 17-25 tahun. Sudah bisa ditebak bahwa penyebab utamanya adalah seks bebas. Pak Emo bercerita bahwa seks bebas disini sudah menjadi budaya. Mohon maaf bukan bermaksud untuk mendeskreditkan masyarakat Papua, tapi memang begitulah adanya. Hubungan seks diluar nikah dan berganti-ganti pasangan adalah hal yang sudah tidak tabu lagi. Bahkan Pak Emo menjelaskan bahwa untuk berhubungan badan saja, tidak usah perlu mengeluarkan modal, cukup dengan perasaan mau sama mau atau suka sama saja bisa dengan mudah berhubungan. Saya pun jujur percaya dengan hal itu, karena saya pun mempunyai pengalaman pribadi tentang hal tersebut. Singkat cerita saya pernah diajak untuk (maaf) berhubungan dengan seorang perempuan. Padahal saling bertegur sapa pun belum pernah, hanya saja perempuan tersebut mengatakan pernah melihat saya berboncengan motor dengan teman laki-lakinya. Hal tersebut cukup bisa sedikit menggambarkan bahwa cerita yang diceritakan Pak Emo benar adanya.

Tentunya cerita dan kejadian diatas merupakan sinyal yang sangat berbahaya. Jika hal-hal tesebut menjadi budaya, akan menjadi mata rantai penyebaran penyakit HIV/AIDS. Selain cerita dari Pak Emo, saya juga mendapatan sebuah cerita yang kembali membuat jantung saya berdegup kencang. Kali ini saya mendapatan sebuah cerita dari salah satu perawat yang bekerja di salah satu rumah sakit militer kota X di Papua, sebut saja namanya Bu Meli (bukan nama sebenarnya). Bu Meli bercerita bahwa saat  tes kesehatan fisik untuk para calon tentara puteri, para peserta tes kesehatan tersebut 9 dari 10 orang ternyata (maaf) sudah tidak gadis lagi. Tidak bermaksud untuk melecehkan siapapun, saya hanya ingin ini menjadi sebuah pelajaran berharga buat kita semua. Memang tidak semua perempuan terenggut kegadisanya karena berhubungan seksual, tapi tidak pula kita bisa menafikan bahwa indikasi terbesarnya adalah hubungan seksual. Seperti yang diketahui bahwa, hubungan seksual yang tidak sehat merupakan salah satu faktor beresiko terbesar untuk penyebaran HIV/AIDS.

Beberapa minggu yang lalu, saya menemukan sebuah artikel yang begitu mencengangkan disitu tertulis ”Rumor Genosida di Papua Gara-Gara Tingginya Kasus AIDS”. Bagi saya berita tersebut adalah sebuah rumor yang sangat mustahil terjadi. Dalam KBBI genosida adalah pembunuhan secara besar-besaran atau terencana terhadap suatu bangsa atau ras. Rumor tersebut muncul diakibatkan penanganan yang kurang serius dari pemerintah Indonesia terhadap kasus HIV/AIDS di Papua. Artinya apa, berita tersebut ingin menggiring opini masyarakat bahwa pemerintah Indonesia sengaja untuk menyebarkan penyakit ini. Berita tersebut hanya ingin memprovokasi bangsa ini untuk merusak persatuan. Untuk mengatakan bahwa berita tersebut adalah hoax, maka pemerintah perlu membuktikan dengan sebuah tindakan yang konkret.

Perlu adanya tindakan konkret dan peran serta dari pemerintah bersama masyarakat. Dengan jumlah kasus kumulatif yang besar di Papua (57.027) mungkin ini sudah cukup menjadi bukti bahwa musuh terbesar masyarakat Papua adalah HIV dan AIDS. Penyakit ini adalah fakta medis yang penularanya dapat dicegah dengan cara-cara yang masuk akal. Misal, tidak melakukan hubungan beresiko tanpa kondom,diluar pernikahan ataupun didalam pernikahan, entah berganti-ganti pasangan atau dengan satu pasangan. Selain itu hal yang juga sangat penting adalah penguatan roh spiritual dalam masing-masing individu msayarakat. Saya meyakini bahwa semua agama tentunya melarang pemeluknya untuk berbuat yang tidak baik atau melanggar norma, individu yang sangat dekat dengan Tuhanya akan senantiasa patuh dengan semua aturan Tuhan yang sudah dibuat. Jika demikian maka perilaku yang menyimpang seperti seks bebas dan perilaku beresiko lainya pun dapat diminimalisir.

Sebuah bangsa dikatakan bangsa yang maju ditandai dengan tingkat kesehatan yang tinggi dari masyarakatnya. Maka dari itu perlu adanya pembangunan manusia, khususnya di bidang kesehatan. Negara ini harus hadir dan menjamin kesehatan masyarakatnya tanpa terkecuali. Jika sebuah penyakit itu mampu membunuh sebagian besar masyarakat di Papua, yang terbunuh bukan Papua tapi Indonesia. Aku menulis karena peduli.

MENJADI TEMAN TERBAIK

Tugas seorang teman adalah menciptakan kebaikan pada teman lainya dengan cara saling menjaga. Teman yang baik akan membantumu dalam menggapai hal yang besar. Dengan bantuan tanganya semua mimpi besar akan terlihat mudah terwujud menjadi kenyataan.

Foto albid
cisss…semua senyum manja yah

Semua orang pasti mempunyai seorang teman atau sahabat. Rasanya aneh  jika ada orang yang tidak memiliki teman satupun. Masa iya ada manusia yang hidup tanpa seorang teman, bisa jadi dia bukan manusia tapi monster. Ya kali, monster juga pasti kan butuh patner in crime untuk menebar kejahatan di muka bumi ini (macam power rangers gitu). Tentunya kebanyakan dari kita, memilih teman didasari oleh kesamaan visi dan misi, atau bahkan kesamaan hobi.  Hal tersebutlah yang akan membawa kita merasakan kenyamanan ketika kita berada dekat dengan teman kita. Bahkan terkadang rasa sayang seorang teman bisa melebihi rasa sayangnya saudara dekat.

Dikalangan orang Indonesia ternyata hubungan pertemanan itu ada tingkatanya loh, macam kasta gitu kurang lebih. Dari yang awalnya Cuma kenalan meningkat menjadi teman, kemudian menjadi sahabat, dan kemudian menjadi saudara. Entah siapa yang memperkenalkan tingkatan itu pertama kali, yang jelas begitulah jenjang tingkatanya. Teman atau sahabat bahkan juga bisa menjadi belahan jiwa kok (jika beruntung). Tetapi bisa juga menjadi musuh yang paling berbahaya buat diri kita. Macam musuh dalam kasur gitu, atau bahasa yang lagi ngetrend adalah cepu.

Setiap yang namanya interaksi sosial pasti mengalami yang dinamakan seleksi. Seleksi dalam pertemanan itu adalah sesuatu yang wajar dan tidak bisa dihindarkan. Tidak mungkin semua orang akan suka dengan diri kita. Jangankan kita yang hanya manusia biasa, seorang Nabi pun yang kebaikanya tidak diragukan lagi juga pasti ada pembencinya kok. Sering kali orang tua kita mengatakan “ Pandailah dalam memilih teman”. Katanya sih kalau salah memilih teman bisa membuat kita menjadi tersesat dan tak tau arah jalan pulang (baca : rumor butiran debu). Ada benarnya juga sih, sebab bisa jadi jika kita adalah tipe orang yang mudah terpengaruh kita akan terjebak perilaku kurang baik yang dibawa oleh teman kita.

Pernah dengar pepatah yang mengatakan “Jika berteman dengan seorang pandai besi maka akan terpercik api dan bau asapnya. Tapi jika berteman dengan penjual minyak wangi maka akan terkena bau harumnya”. Bukan berarti kita tidak boleh berteman dengan tukang las dan hanya boleh berteman dengan abang-abang di toko refil parfum yah. Hal yang perlu digaris bawahi disini adalah sifat dan sebab akibatnya. Sebenarnya kita boleh berteman dengan siapa saja. Perlu di ingat bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Jika kita mempunyai seorang teman tapi ada perilakunya yang salah, bukan berarti kita bisa langsung mem-blacklist dia dari pertemanan kita. Cukup benci dengan salah satu sifat perilakunya yang salah dan kemudian bantu dia untuk memperbaikinya. Selain mempunyai kelemahan, manusia juga diciptakan dengan kelebihanya. Sifat itulah yang bisa menjadikan manusia memiliki seorang teman. Dengan segala kelebihanya masing-masing, manusia ditakdirkan untuk saling melengkapi. Kita tetap butuh seorang pandai besi, karena kita tetap butuh pisau untuk memasak. Kita juga tetap butuh seorang penjual parfum karena keringat kita belum tentu berbau aroma terapi.

Seorang teman yang baik adalah mereka-mereka yang tidak mengenal istilah “lari” jika temanya membutuhkan pertolongan. Untuk mendapatkan seorang teman yang baik bukan hanya memilih dan dipilih, tapi juga menjadi. Yaps, menjadi seorang pribadi yang baik untuk diri kita sendiri dan orang lain. Masa iyah ingin memiliki teman yang baik tetapi diri kita sendiri bertingkah laku seperti seorang penjahat. Teman terbaik itu bukan ditemukan tapi diciptakan. Sebab manusia pada dasarnya memiliki sifat baik pada dirinya. Tugas seorang teman adalah menciptakan kebaikan pada teman lainya dengan cara saling menjaga. Teman yang baik akan membantumu dalam menggapai hal yang besar. Dengan bantuan tanganya semua mimpi besar akan terlihat mudah terwujud menjadi kenyataan.

Yok, saling berkabar dengan teman baikmu.

 

PESAN UNTUK MAMA WARUNG MAKAN PADANG

Dear Mama Warung Makan Padang Murah di Jogja Sanah

Semoga mama dalam keadaan baik dan sehat wal afiat. Mohon maaf baru sempat nulis pesan ini setelah pergi meninggalkan Jogja dan tidak pernah lagi makan di warung mama.

Sebelumnya terimakasih sudah berkenan menyediakan makanan murah meriah untuk kami para anak kos yang berjiwa miskin. Entah jadi apa kami sekarang ini jika mama tidak  menyediakan makanan bernilai ekonomis. Mungkin kami akan ditemukan mati kelaparan ditempat tidur kos kami. Sekali lagi terimakasih yah mama.

Sejujurnya kemurahan masakan mama di warung padang murah itu menjadi perbincangan saya dan para anak kos lainya. Bagaimana tidak, dengan metode penyajian yang prasmanan alias mengambil sendiri kami bisa menyantapnya hanya dengan 8 ribu rupiah, bahkan terkadang 6 ribu rupiah dengan menu gorengan tempe dan kuah sayur rendang saja. Itupun sudah dengan es teh manis. Kami dulu para anak kos hanya menuntut makanan yang murah tapi dengan porsi kuli bangunan. Bagi kami cita rasa nomor dua puluh tujuh. Asal mama tahu saja, kami hanya berpikir ke kenyangan yang didapat mampu bertahan hingga satu hari penuh.

Entahlah apa yang berbeda masakan mama dengan warung padang pada umumnya. Yang kami tahu hanya harga yang disodorkan warung mama jauh lebih murah dibandingkan warung padang yang lainya. Itulah yang membuat saya tidak bisa berpaling kelain hati. Saya tahu terkadang hati mama pasti merasa sedih, ketika milhat saya dan anak kos lainya hanya mengambil nasi dengan porsi jumbo namun hanya mengambil kuah rendang dan satu buah gorengan tempe yang terpampang di etalase warung. Mau bagaimana lagi mama, beginilah cara kami untuk menyambung hidup. Ada rasa malu ketika kami ingin membayar makanan di meja kasir. Setiap ditanya “Makan apa saja mas?” kami hanya menjawab makan sayur dan gorengan tempe satu buah. Dengan kerelaan hatinya mama hanya tersenyum dan mengatakan “enam ribu saja mas”. Tapi percayalah kami semua itu jujur. Tidak satu kalipun kami memanipulasi jumlah gorengan yang kami makan. Percayalah mama.

Asal tahu saja ma, saya sudah merantau di Papua dan jauh dari mama. Teman kos saya pun sudah merantau ke tempat yang jauh dari warung mama. Tapi bagaimanapun juga, kami tidak mungkin melupakan jasa-jasa mama terhadap perut kami. Tanpa mama mungkin kami tidak bisa menjadi seperti sekarang. Tenang saja yah mama, kami disini sehat semua kok. Semoga suatu saat saya dan teman-teman bisa mampir lagi ke warung mama. Mungkin cukup itu dulu yang bisa saya sampaikan. Semangat bekerja dan tetap murah yah mama. Wassallam

Salam Cinta,

Ganang

144 JAM PENUH ARTI

Suatu waktu tepatnya 28 Juni 2019 hp gue bergetar keras. Eh ternyata ada email masuk. Gue pun bergegas untuk membukanya, dugaan gue benar ternyata ada email masuk dari salah satu panitia Seminar Nasional yang gue waktu itu daftar. Gue bukalah tuh email, sip dan tepat sesuai dugaan ternyata paper yang gue buat lolos. Yeay, dalam hati gue “Alhamdulillah, akhirnya bisa traveling gratis lagi ke Jogja”. Saat itu gue benar-benar gak peduli buat keperluan apa yang harus gue siapkan untuk ke Jogja. Whatever, the important thing is happy. Detik itu gue memutuskan untuk traveling juga ke Jakarta setelah acara di Jogja kelar.

Jadwal keberangkatan gue ke Jogja waktu itu tanggal 16 July 2019 pukul 11.35. Entah apa yang dipikiran gue saat itu, gue hampir lupa kalo gue berangkat ke Jogja hari itu juga. Jam 10 gue masih enak-enakan nyuci motor, dan tiba-tiba tetangga gue bilang “Mas katanya mau ada acara ke Jogja?” buset gue lupa. Segeralah gue taruh ember dan kain lap bekas nguci motor. Dengan grusa grusu gue mandi dan prepare masukin pakaian dan segala macemnya ke koper. Sangking ngebutnya jam 11.00 gue sudah ada di airport dong. Dengan wajah yang masih keringetan akhirnya terbanglah gue ke jogja. Yeay.

7Jam di Makasar

Pesawat yang gue tumpangi transit di Makasar kurang lebih 7 jam. Gue sebenarnya bingung mau ngapain transit selama itu di Makasar. Tanpa pikir panjang akhirnya gue memutuskan untuk jalan-jalan di kota Makasar. Awalnya pengen ke leang-leang, soalnya kata temen gue cuma itu yang tempatnya worthed dan gak terlalu jauh dari bandara tempat gue transit. Kenyataan berkata lain, berhubung akses ke Leang-leang cukup sulit, akhirnya gue berbelok arah ke taman nasional Bantimurung. Yasudah dengan diantar babang grabs, tibalah gue ditempat tujuan. Kurang lebih 35 menit durasi perjalanan dari airport ke taman nasional Bantimurung.

Waterfall Bantimurung

Taman nasional Bantimurung

Sebenarnya tahun 2016 gue sudah pernah main ke bantimurung, tapi tak apalah dari pada bertelur di airport, ye kan heheh. Mulai lah gue menyusuri taman nasional yang terkenal dengan kupu-kupu dan waterfall nya yang cantik. Ternyata nih tempat dari dulu belum ada perubahan yang signifikan. Indah banget, nature dan mengingatkan gue pada kenangan yang dulu pernah ada (ceilahhh). Seperti kegiatan traveling biasanya, mulailah gue cekrak cekrek sanah sinih. Kadang gue mikir, lelah rasanya traveling sendirian terus. Pengen rasanya bisa ketawa, tafakur dan menikmati indahnya destinasi bareng patner ternyaman haha. Tapi yaudah sih, mungkin Allah masih nyuruh gue untuk berjuang ngebahagiain diri sendiri dulu kali.

Puas bercekrak cekrek ria tibalah waktu untuk kembali ke tempat persinggahan (baca: airport) untuk bersiap menuju destinasi berikutnya. Di Makasar gue dapat pelajaran yaitu kemandirian. Ditengah keramaian Makasar dan rindangnya pohon taman nasional Bantimurung gue merasakan lelahnya berjalan dan berjuang sendiri. Siapa sih yah bakalan betah jika hidupnya sendiri, secara manusia kan membutuhkan patner untuk mengarungi kehidupan. Pokoknya senyumin aja deh yah. No one is very tough in this life. They just feel the sadness but they sometimes pretend to smile. Tapi apapun itu gue tetap bersyukur, masih ada Allah yang terus menerus ngasih kenikmatan yang luar biasa ke gue. Alhamdulillah.

68 Jam di Jogja

Setelah menempuh penerbangan kurang lebih 2 jam, tepat pukul 21.00 gue tiba di Jogja. Akhirnya tiba juga ditempat yang dirindukan. Padahal gue sendiri belum genap satu bulan mampir di kota istimewa ini. Yah gimana lagi, namanya juga kota penuh history and memories. Bisa dibilang inilah rumah kedua gue setelah kampung halaman. Seperti yang gue tulis diawal, bahwa gue ke Jogja karena ada event disini. Ibu juga sempat ke Jogja, katanya sih kangen sama anaknya. Kami pun bertemu dirumah budhe. Seperti biasa pertemuan antara anak dan ibu pasti berlangsung menye-menye. Yah, sejak gue merantau diujung timur Indonesia Ibu terlihat sangat sering khawatir pada anaknya. Maklum lah yah naluri seorang ibu. Gue sendiri sadar, keberhasilan gue buat menjalani kahidupan ada di doanya seorang ibu. Pokoknya beliau adalah segalanya deh. My mother’s wonderful. To me she’s perfection.

Stand Sipindo di acara Seminar Nasional

Stand Sipindo

Btw kegiatan seminar gue di Jogja berlangsung dua hari, Rabu dan Kamis. Yah walaupun membosankan tapi gue menikmati, karena ini merupakan seminar pertama gue setelah lulus menjadi mahasiswa. Berasa jadi mahasiswa lagi sih, ndengerin para pakar ngomong sambil mata naik turun alias ngantuk hehe. Setelah kegiatan pagi sampai sore diisi seminar yang mbikin otak mendidih, seperti edisi biasanya gue langsung hubungin teman-teman yg ada di Jogja untuk kongkow bareng. Eits gue bukan tipikal orang yang suka kongkow tapi ngobrol gk jelas. Kali ini gue kongkow bareng teman-teman Pejuang Literasi Papua. Sudah ditebak kan yah kita bakalan ngobrolin apaan. Yah walaupun obrolan kami sambil ketawa ketiwi ngalor ngidul tapi kami masih sempat ngobrolin tentang nasib anak bangsa, khususnya pendidikan anak-anak Papua. Sering terharu sih kalo melihat anak-anak muda dengan kesibukanya tapi masih sempat mikirin hal-hal yang beginian. Gue kadang juga heran, kenapa banyak anak muda yang terjebak dengan rutinitas yang cenderung negatif dibandingkan menyibukan diri dengan kegiatan yang bernilai ibadah. Ingat yah, harusnya kita itu malu ketika kita belum mampu untuk berbuat banyak untuk negara ini. Indonesia itu bagian diri gue, bukan gue bagian dari Indonesia. Jadi sudah menjadi kewajiban gue untuk mengabdi dan berbuat banyak untuk negara ini. Merdeka!

Keesokan harinya seperti biasa masih disibukan dengan kegiatan didalam ruangan, yaitu seminar. Pagi sampai sore pun berlalu begitu cepat. Sama halnya dengan malam sebelumnya, malam itu agendanya adalah bertemu sama teman lama gue. Mungkin hampir ada 2 tahun kita gak ketemu. Maklum lah yah kita dipisahkan oleh pulau, bahkan negara. Rencana awal gue dan teman gue yang baru pulang dari negaranya Xin ji ping mau kongkow bareng didaerah kaliurang. Selain pengen cari suasana baru gue juga berniat untuk nemuin teman gue yang juga lama gak pernah ketemu. Kebetulan si dia kuliah di kampus daerah Kaliurang. Walaupun gue dan si dia baru ketemu sekali, kita sering berdikusi lewat sosial media, jadi yah berasa kaya teman dekat gitu.

Tapi rencana tinggalah rencana. Teman gue yang baru pulang dari Tiongkok ternyata malah ngajakin gue ke FKY (Festival Kebudayaan Yogyakarta). Kesal juga sih sebenarnya kalo ada agenda tapi gak sesuai rencana. Tapi berhubung teman lama dan sudah lama gak ketemu yah gue oke in aja akhirnya, daripada gak ketemu sama sekali ye kan.

Meluncurlah akhirnya kita berdua menuju FKY. Sambil ketawa ketiwi dan saling bertanya kabar. Entah tau gimana tiba-tiba temen gue nyletuk “Eh elu tau gak, sebenarnya di Tiongkok sana umat muslim itu banyak. Khususnya di daerah xinjiang”. Wah obrolan menarik nih pikir gue, akhirnya gue pun bertanya “Eh yang betul? Terus bagaimana kondisi disana? Yang kasus uighyur-uighyur itu gmana sih?”. Sambil menyusuri macetnya kota Jogja kita pun meneruskan obrolan ala warung kopi diatas motor. “Yaelah, disana aman-aman aja kok. Media barat saja yang berlebihan. Xinjiang itu merupakan provinsi paling miskin di Tiongkok. Nah umat muslim itu paling banyak disana”. Gue sih awalnya cuma bisa nyimak dan mikir tipis-tipis. Biar makin seru gue pun bertanya lagi “Lah terus? Maksudnya warga muslim disana miskin-miskin gitu? Terus hubunganya sama diskriminasi dari pemerintah Tiongkok itu apa?”. “Begini, disana itu banyak kasus salah satunya terorisme. Sebenarnya yang di ekspose media tentang pendirian camp miter di xinjiang itu salah. Pemerintah Tiongkok justru membuat semacam tempat vokasi untuk masyarakat Xinjiang. Yah tujuanya untuk memberikan keterampilan mereka biar bisa dapat kerja”. Begitulah kata temanku.

Sebenarnya masih panjang obrolan gue dan teman gue ini. Tapi pada intinya, si teman gue ini mengatakan bahwa disana umat muslim hidup berdampingan secara rukun. Yah walaupun gak sebebas muslim di Indonesia paling tidak mereka disana tidak dibatasi untuk beribadah. Pokoknya gitu lah yah. Nah disini gue dapat pelajaran lagi, tabayun itu penting. Kalo ada apa-apa jangan ditelan bulat-bulat, nanti keselek (yaelah emang makanan wk). Bertabayunlah dan jangan jadi manusia yang gak gumunan.

Ceritapun berlanjut. Setelah obrolan panjang diatas motor itu akhirnya sampailah di lokasi kejadian perkara haha (FKY). Gue disitu sebenarnya galau karena punya janji buat nemuin teman yang lain di Kaliurang. Berhubung gak mau mengecewakan teman meluncurlah gue ke Kaliurang dengan meninggalkan teman gue. Lagi-lagi babang grabs menjadi andalan gue untuk kebut-kebutan di jalan hehe.

Walaupun sedikit terlambat tibalah gue di Kaliurang. Bertemulah sepasang teman yg entah berapa ribu purnama belum pernah bertemu lagi. Eh gk sepasang sih karena teman gue bawa temannya Biasalah diawal perjumpaan kita saling say hai dan berkabar. Tibalah diobrolan yang menurut gue serius. Seperti yang gue bilang, setiap kongkow gue gak mau sekedar ngobrol hal yg sia-sia. Awalnya ngobrolin tentang Papua sampai-sampai ngobrolin tentang LGBT dan Feminisme. Berhubung si teman gue ini aktivis dakwah (cieee aktivis dakwah hehe), dia merasa gundah dan resah dengan maraknya LGBT dan Feminisme. Katanya sekarang gerakanya di Jogja sudah mulai gak gelap-gelapan lagi alias sudah terang-terangan. Layaknya seorang pejuang dakwah yang gigih teman gue sagu ini mencurahkan semua apa yg dia resahkan selama ini. Gue sih lebih banyak mendengarkan, karena apalah gue seorang fakir yg hanya bisa menjadi pendengar yang baik.

Saat itu gue cuma bilang, “Gue sendiri gak pro atau membenarkan LGBT dan sejenisnya, gue tidak membenci pelakunya tapi gue benci sifat dan perilakunya”. Salut deh sama teman yang satu ini pokoknya. Lagi dan lagi gue banyak belajar dari dia. Setelah obrolan panjang itu, kita pun berpamitan untuk mengakhiri kebersamaan ini. Hal yang membuat gue senang lagi ternyata teman gue meberikan hadiah buku dan sepucuk surat. Wah luar biasa, sudah dapat ilmu, dapat buku dan surat lagi. Kurang baik apa coba. Kalo teman gue membaca tulisan ini, gue cuma bisa bilang terimakasih sudah menjadi saudara seiman yg baik, terimakasih buku dan suratnya. Semoga Allah senantiasa melindungimu. Mohon maaf belum bisa menjadi teman yang baik. Jazakillah khair.

Buku pemberian teman

48 Jam di Jakarta

Tibalah pada destinasi terakhir. Yeay Ibu kota Jakarta. Mungkin banyak yang gak tahu kalo gue sendiri adalah kelahiran Jakarta. Tapi gak penting juga sih teman-teman gue tahu hehe. Gue sendiri niat awal ke Jakarta adalah untuk liburan. Kurang lebih ada sisa 2 hari lah sebelum kembali ke rutinitas yang sebenarnya. Gak mau nyia nyiain kesempatan dong, teman gue yang di Jakarta gue paksa untuk jadi tour guides selama gue di Jakarta.

Tujuan pertama gue di Jakarta adalah ke Istiqlal, sambil nunggu teman-teman datang seperti biasa gue cekrak cekreng di sekitar masjid yang konon paling terkenal di Indonesia. Ada sesuatu yang menarik pas gue ngambil gambar. Semua pasti sudah tau jika masjid Istiqlal langsung berhadapan dengan Katedral. Bagi gue ini mencerminkan ke-Indonesiaan banget sih. Ini lah Indonesia, cinta toleransi dan saling mengasihi antar umat beragama.

Katedral depan masjid Istiqlal

Setelah sekian lama datanglah para tour guides andalan gue hahah. Otw lah kita semua menunuju ke pemberhentian selanjutnya. Tujuan kita adalah ke blok M square. Kali ini bukan babang grabs yang nganterin gue beserta rombongan. Kita naik bus tingkat yeayy. Senang banget dong gue, baru pertama kali naik ginian dan gratis pula. Maklum lah yah gue kan ndeso. Kurang lebih 30 menit lah yah gue naik bus tingkat menuju tempat transit. Setelah menempuh perjalanan yang macet dan melelahkan akhirnya sampai ditempat transit pertama yaitu stasiun MRT di bundaran HI. Wah gelaseh, gak nyangka akutuh sudah secanggih ini Indonesia. Stasiunya bersih, modern dan keretanya bersih. Yang membuat gue heran lagi penumpangnya itu loh rapi mau ngantri. Bangga gue pada negara ini hehe. Entah berapa banyak stasiun yang terlewati yang gue inget cuma keretanya bersih dan ac nya dingin haha.

Bus tingkat

Suasana di dalam MRT

Sampai di blok M Square pertama gue dan rombongan transit ke Masjid untuk mengusir lelah dan beribadah. Bukan pertama kali gue ke masjid blok M square ini. Masjid ini memang sudah terkenal seantero Jakarta, selain lokasinya diatas mall tempatnya juga nyaman untuk beribadah, termasuk untuk tidur juga yah hehe.

Lelah pun hilang, akhirnya kita memutuskan untuk makan dan ngobrol ditempat makan dalam mall tersebut. Sehabis makan kita pun seperti biasa ngobrol dan cengengesan sanah sinih. Nah ditempat itu juga akhirnya kita semua memutuskan untuk meeting mbahas masalah pendidikan di tanah Papua. Pokoknya untuk traveling kali ini setiap tongkrongan pasti yang diobrolin gak jauh-jauh dari pendidikan dan dakwah. Bukanya sok keren dan sok alim sih tapi menurut gue bukan zamanya lagi lah anak muda ngobrol hal yang receh dan sia-sia. Setelah capek ngobrol urusan bangsa dan negara akhirnya kita memutuskan untuk cari buku yang kita mau kasih ke anak-anak di Papua. Gue merasa kerdil sih punya teman-teman yang luar biasa. Mereka muda tapi rasa kepedulianya sungguh sangat luar biasa.

Gue dan para tour guides

Hidup itu cukup sekali. Jika hidupmu hanya untuk berdiam diri atau menghabiskan waktumu untuk memikirkan dirimu sendiri gue rasa sangat mubadzir. You only live once, but if you do it right, once is enough. Menurut gue, yang bisa menjadikan hidup kita berharga adalah perilaku diri kita untuk orang lain. Jika kita baik dan membuat orang lain bahagia maka hidupmu seperti emas. Kurang lebih begitulah perjalanan 144 jam gue yang penuh arti. Betapa rasa syukurnya gue punya orang-orang hebat di sekeliling gue. Kebangetan sih rasanya kalo gue sering mengeluh. Terimakasih untuk perjalanan yang lelah ini, terimakasih karena telah membersamai dan memberi arti.

Btw gue nulis ini di Airport. Yeay saatnya pulang ke Biak dan kembali berutinitas. Semangat!

Filter Bubble: Teori Gelembung Saring Yang Mematikan

Semua orang menganggap dirinya putih karena masing-masing orang menganggap orang lain itu hitam. Bersikaplah adil untuk diri sendiri dan orang lain. Media sosial itu harusnya menyatukan bukan memisahkan. Keluarlah, dan percayalah bahwa kita tidak akan mampu hidup dengan hanya satu sudut pandang.

Setiap malam hiburanku adalah menonton video di youtube. Di tengah penatnya seusai pulang kerja, youtube bisa menjadi solusi yang ampuh untuk menjadi teman penghibur. Biasanya sih video yang sering aku tonton gak jauh-jauh dari komedi dan politik. Maklum lah yah namanya darah muda yang sekarang jadi budak coorporate, selain butuh hiburan yah harus juga ngerti perkembangan politik. Apalagi sekarang sedang rame-ramenya pilpres wussssss.

Suatu malam, dimalam yang dingin kala itu (maklum jomblo, jadi kedinginan hehe), ada satu video di youtube yang tampilan gambarnya sangat menarik, di gambar muka video tersebut tertulis “Echo Chamber dan Filter Bubble Theory”. Berhubung penasaran, mulai lah tuh video aku klik. Wagelaseeehhh ternyata videonya benar-benar sangat menarik. Setelah melihat video itu aku jadi tau, kenapa pilpres itu begitu panas dan banyak manusia-manusia yang terlalu fanatik dengan kelompok tertentu (fanatik itu cukup dengan Tuhan bos, jangan sama manusia hehe).

Tiba-tiba pikiranku jadi flashback dengan kejadian-kejadian yang aku sering alami selama ini. Pernah gak sih kalian ngrasain, ketika kita buka medsos berita yang keluar di feed kita itu berita tentang itu-itu saja. Contohnya, aku sendiri kan anak pertanian, sadar gak sadar ternyata di beranda facebook ku yang keluar semuanya berita tentang pertanian. Berasa kaya tuh medsos dinas pertanian deh haha. Sekarang coba deh kalian cek facebook atau Instagraam kalian, di feed atau beranda kalian yang banyak keluar berita tentang apa? Apakah isinya sama dengan feed ku? Aku yakin gak deh (kecuali yang anak kebun kaya aku hehe).

Perbedaan konten semacam itu adalah hal yang sangat wajar karena jejaring pertemanan setiap orang itu berbeda-beda. Usut punya usut ternyata di media sosial itu ada yang namanya sistem algoritma yang cara kerjanya memilah milah sebuah konten yang relevan untuk si pengguna medsos tersebut. Jika kalian pecinta manchester united dan ngikutin fans pagenya pasti yang bakalan keluar di beranda atau feed kalian yah tentang manchester united bukan manchester city. Paham?

Nah itulah yang dinamakan Filter bubble alias gelembung saring. Filter bubble tercipta karena sistem algoritma. Akibatnya kita hanya akan di cekoki oleh berita atau konten yang itu-itu saja. Kita seperti terperangkap disebuah gelembung besar, yang membuat kita semacam terisolasi. Tentunya hal ini akan sangat berbahaya, manusia hanya akan melihat sesuatu dari satu sudut pandang saja. Jadi semisal ada teman kalian yang suka menyalah nyalahkan kelompok lain diluar kelompoknya, bisa jadi teman kalian sudah terkena dampak dari Filter bubble. Jika seseorang sudah terperangkap oleh filter bubble maka bisa dipastikan orang tersebut akan mengingkari eksistensi gagasan lainya. Pernah dengar pepatah “kecebong dalam tempurung”? Haha yah seperti itulah seseorang jika sudah terkena dampak negative dari filter bubble.

Gelembung saringan ini juga akan membentuk suatu pemikiran yang salah dalam pikiran seseorang. Orang tersebut akan mudah sekali mengklaim pendapatanya adalah pendapat yang dibenarkan oleh mayoritas. Padahal bisa saja kenyataanya tidak seperti itu. Eh btw berbicara klaim mengklaim, sama seperti berita yang lagi happening saat ini. Semua pasti paham lah yah, untuk pilpres kali ini kedua kandidat mengklaim dirinya menang. Bahkan sudah ada yang sujud syukur mengklaim kemenangan loh hahah. Duh duhh, tenang disini aku memposisikan sebagai pihak yang netral kok.

Sudah deh yah jangan terlalu fanatik. Kalo tidak mau terjebak dan menjadi bodoh. Ayo kecebong keluarlah dari tempurungmu, sudah ditunggu kampret nih haha. Kalo kalian suka Machester United jangan pernah sungkan untuk membaca berita tentang klub lain. Tentunya bukan cuma berita jeleknya saja yah, tapi prestasi-prestasinya juga kudu dilihat.

Walaupun seperti itu bukan berarti filter bubble yang tercipta dari sistem algoritma tersebut selalu berdampak negatif. Dampak positivenya juga ada kok. Tujuan utama dan fungsi algoritma ini kan sebenarnya untuk memudahkan mencari dan memilah data sesuai dengan keinginan user. Untuk kalangan pebisnis ini juga bisa membantu memermudah mereka dalam pengiklanan supaya sesuai dengan target pasar.

Kesimpulanya adalah, bijaklah dalam menggunakan media sosial. Semua orang menganggap dirinya putih karena masing-masing orang menganggap orang lain itu hitam. Bersikaplah adil untuk diri sendiri dan orang lain. Media sosial itu harusnya menyatukan bukan memisahkan. Keluarlah, dan percayalah bahwa kita tidak akan mampu hidup dengan hanya satu sudut pandang.

Author : Ganang Prakoao